Tidak Takut Dan Tidak Cinta Tuhan, Asas Kejahatan ( III-Habis )

Sebab itu jika berlaku gejala sosial dikalangan pemuda-pemudi, kalau hendak menangani kejahatan mereka, maka guru, guru besar atau menteri, jangan hanya mencari kesalahan pemuda-pemudi. Carilah kejahatan sendiri dulu dan bertaubat. Kalau langsung bertindak sedangkan kita, menteri, guru, guru besar, tidak nampak kejahatan sendiri, maka itulah sebab Tuhan tidak menolong kita. Sebab itu setiap orang yang hendak menangani gejala masyarakat, hendaklah berpikir dulu apa dosanya. Hendaklah dia bertaubat dan minta tolong kepada Tuhan. Barulah menangani masalah. Barulah Tuhan akan menolong. Jaman ini tidak berlaku demikian. guru, guru besar, menteri hanya nampak murid-murid jahat dan dia tidak merasa dirinya jahat. Begitulah juga kalau politisi hendak memperbaiki masyarakat. Masyarakat ada kejahatannya sendiri manakala orang politik pun ada kejahatan sendiri. Mungkin dia tidak suka berkelahi seperti masyarakatnya, tetapi dia mengamalkan sogok dan suap. Bagaimana mungkin orang jahat hendak memperbaiki kejahatan orang lain?

Mana ada orang, sekali pun ulama yang pernah mengatakan segala kejahatan adalah berawal dari manusia tidak takut dan tidak cinta Tuhan? Ini perkara yang sangat tersirat. Tidak takut dan tidak cinta kepada Tuhan adalah asas kejahatan.

Bagi orang yang takut dan cinta kepada Tuhan, dia tidak cepat bertindak. Dia berpikir dahulu. Mungkin suatu hal itu terjadi karena dosanya. Dia pun bertaubat. Kalau dia pikir-pikir tetapi dia tidak menemukan dosanya maka dia bercakap dengan Tuhan, walaupun dia tidak tahu dosanya dia tahu dia bersalah jadi dia minta ampun. Setelah itu barulah dia minta Tuhan menolong dia. Sebab itulah Rasulullah itu, walaupun orang melempar batu dan pasir kepadanya, beliau doakan supaya orang itu diberi petunjuk.

Jadi kalau orang berbuat jahat kepada kita, dan kita pun membalasnya, maka kita sama-sama jahat. Orang yang baik, dia tidak langsung bertindak. Dia berpikir, apa dosa yang dilakukannya sehingga orang berbuat jahat kepadanya. Dia senantiasa berbaik sangka dengan ALLAH. Hasil dari cinta dan takut kepada ALLAH.

Jadi bagi orang yang hendak memperbaiki masyarakat, tidak bisa hanya membuat undang-undang dan peraturan. Undang-undang itu benda luar. Itu cara terakhir. Yang takut itu hati. Kejahatan datang dari hati yang tidak takut dan tidak cinta Tuhan. Mestinya dia betulkan hati dahulu supaya orang takut dan cinta kepada Tuhan.

Takut dan cinta kepada Tuhan adalah ibu segala kebaikan. Tetapi kalau tidak takut dan tidak cinta kepada Tuhan, itulah ibu segala kejahatan. Itulah jati diri yang sudah rusak.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer