Tidak Takut Dan Tidak Cinta TUHAN, Asas Kejahatan ( II )

Bila seseorang ada rasa takut dan cinta Tuhan, bermacam-macam kejahatan tidak jadi hendak masuk dalam dirinya. Contoh, misalkan kita seorang suami, pulang ke rumah pukul 12 malam. Kita ketuk pintu, memberi salam, isteri tidak bangun-bangun. Sudah lama kita ketuk, barulah dia membuka pintu. Apa kata hati kita? “ Mungkin dia mengantuk, masa orang yang mengantuk tidak dimaafkan?” Kita akan dapat berlapang dada. Tapi kalau kita tidak takut dan tidak cinta pada Tuhan, maka kalaulah kita bukan seorang penampar muka isteri, amarah kita yang akan keluar.

Contoh lain, kita bergaul dengan orang, tiba-tiba ada orang berbuat jahat terhadap kita. Hati kita berprasangka baik. “ Dia tidak merasa sepertinya, Dia mungkin tidak sengaja “. Ataupun kita takwilkan: “ Dosa apa yang aku buat sampai Tuhan menghukumku? Mengapa kawanku dapat berbuat jahat begini? kawan baik pula. Ini mesti karena dosa saya”. Bila dia sudah memiliki rasa takut dan cinta Tuhan, dia dapat berlapang dada.

Kalau kita kaji secara halus atau tersirat, oleh karena Tuhan sayang kita, kesalahan kita cepat dibalas. Contohnya, ada sebuah cerita di dalam kitab. Ada satu keluarga, suaminya seorang pedagang emas. Dia keluar pagi, malam baru kembali. Suami isteri ini orang yang beragama. Mereka menggaji seorang pegawai lelaki yang baik. Suatu hari sewaktu suami tidak ada di rumah, pegawai itu mengulurkan satu barang pada isteri tuan rumah dari balik pintu, dari luar rumah. Mereka tidak saling memandang satu sama lain. Entah bagaimana waktu mengulurkan barang itu, si pegawai memegang tangan perempuan ini. Perempuan itu merasa pegawai itu memegang tangannya dengan bernafsu. Perempuan itu tidak marah tetapi dia berfikir dosa siapa yang menyebabkan hal itu terjadi? Apakah dosa dia atau dosa suaminya. Ketika suaminya kembali, dia bertanya pada suaminya: ”Saya minta Abang jangan berbohong. Waktu Abang di toko emas tadi, apa yang terjadi?” Suami itu orang yang takut pada Tuhan. Dia berkata ,”Tadi Abang bersalah. Syaitan menggoda abang. Ada perempuan membeli cincin, abang sarungkan cincin dan abang pegang tangannya dengan bernafsu”. Perempuan itu berkata, “ Patutlah saya terkena hukuman Tuhan, abang pun terkena hukuman Tuhan. Pegawai yang baik itu memegang tangan saya. Ini hukuman bagi Abang”.

Inilah cerita dalam kitab. Kadang-kadang karena Tuhan sayang pada seseorang , Tuhan tidak biarkan kesalahannya terlalu lama. Tuhan menghukumnya. Bila orang sudah cinta Tuhan, maka ketahanan dirinya sudah terwujud. Di sinilah rahasia mengapa gejala negatif dalam masyarakat susah diberantas. Karena orang jahat dan orang yang hendak memperbaiki kejahatan itu pun samasama jahat serta tidak takut Tuhan. Misalnya antara murid dengan guru, guru pusing dengan kejahatan murid seperti membolos, tidak displin, tidak membuat pekerjaan rumah. Dia berfikir, “Jahat betul murid saya ini?” Kenapa dia merasakan muridnya jahat? Karena dia tidak membuat kejahatan seperti yang dibuat murid itu, maka dia merasa muridnya jahat. Tetapi sebenarnya dia pun berbuat kejahatan lain sehingga Tuhan membalasnya. Guru tidak tawuran, murid tawuran. Tetapi kenapa dia tidak dapat mendidik muridnya?
Sebab dia pun berbuat kejahatan. Cuma kejahatannya tidak sama. Misalnya di rumah, sebentar-sebentar dia menempeleng isterinya. Bagaimana bisa orang jahat hendak memperbaiki orang jahat?

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer