Tasawuf

Perantara dalam tawasul





Untitled Document




Menurut keterangan di Al Quran dan Hadis, terdapat beberapa perkara yang dapat dijadikan sebagai wasilah/perantara dalam tawasul, yaitu sebagai berikut: 
  • Tawassul dengan Nama-Nama Allah yang Agung
  • Tawassul melalui Amal Soleh
  • Tawassul melalui Do'a Rasul
  • Tawassul melalui Do'a Saudara Mukmin
  • Tawassul melalui Diri Para Nabi dan Hamba Saleh
  • Tawassul melalui Kedudukan dan Keagungan Hamba Sholeh
  • Tawassul melalui orang yang sudah wafat
  • Tawassul melalui orang yang belum lahir

Tawasul dengan nama Allah

Allah swt. berfirman:

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS al-A'raf: 180)

Tawasul melalui amal soleh

Allah swt. dalam al-Qur'an berfirman:

“Dan (ingat- lah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo'a): ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah Taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang' ” (QS al-Baqarah 127-128)

Ayat di atas menjelaskan bagaimana hubungan antara Amal Sholeh (pembangunan Ka'bah) dengan keinginan/permohonan Ibrahim al-Khalil agar Allah swt. menjadikan dirinya, anak-cucunya sebagai muslim sejati dan agar Allah menerima taubatnya.

Tawasul melalui do'a Rasul

Tentang keagungan nama Rasulullah, Allah swt. berfirman:

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (QS an-Nur: 63)

Hadirnya Rasulullah menghindarkan manusia dari azab/siksaan. Allah swt. berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyiksa/mengadzab mereka, sedang kamu (Rasulullah )berada diantara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS al-Anfal: 33).

Allah swt. menyandingkan nama-Nya dengan nama Rasulullah saw.:

“Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan ‘udzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: ‘Janganlah kamu mengemukakan ‘uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah Telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya dan Allah serta rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan' ” (QS at-Taubah: 94).

Allah menjadikan Rasulullah sebagai jalan untuk mendapatkan pengampunan. Allah swt... berfirman:

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa': 64).

Ayat ini dikuatkan dengan ayat lainnya, seperti firman Allah swt...:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri” (QS al-Munafiqqun: 5).

Tawasul melalui doa orang Mukmin

Dalam al-Qur'an, Allah swt berfirman:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo'a: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami , dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman'; ‘Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.' ” (QS al-Hasyr: 10).

Dalam ayat ini ditunjukkan tentang berdoa minta ampun untuk diri dengan cara mendoakan orang-orang terdahulu. Artinya orang-orang terdahulu tersebut dijadikan sarana wasilah.

Tawasul melalui Nabi dan Hamba soleh

Ada hamba-hamba Allah yang namanya telah ditinggikan . Allah swt.. berfirman:

“Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” (QS al-Insyirah: 4).

Orang-orang semacam itu (manusia Sholeh pengikut sejati Rasulullah), mereka adalah para pemiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, maka Allah swt.. memerintahkan kepada segenap kaum muslimin lainnya untuk memuliakan dan menghormati mereka.

Allah swt.. berfirman:

“(yaitu) Orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS al-A'raf: 157).

Jika kunci terkabulnya do'a terdapat pada kepribadian dan kedudukan luhur di sisi Allah swt.. yang dimiliki oleh setiap manusia Sholeh tadi maka sudah menjadi hal yang utama jika mereka dijadikan sebagai sarana (wasilah) oleh segenap manusia muslim biasa untuk mendapat keridhoaan Allah. Sebagai- mana do'a mereka pun selalu didengar dan dikabulkan oleh Allah swt..

Jika ada kelompok muslim yang membolehkan menjadikan do'a manusia sholeh sebagai sarana (wasilah) menuju ridho Allah maka menjadikan sarana (wasilah) kepribadian ( dzat/syakhsyiyah ) dan kedudukan ( jah/ maqom / manzilah / karamah / fadhilah ) manusia sholeh tadi pun lebih utama untuk diperbolehkan. Karena antara sarana pengkabulan do'a' dan ‘sarana kedudukan/kepribadian agung manusia sholeh' terdapat relasi/hubungan erat dan menjadi konsekuensi logis, nyata dan sah (syar'i). Memisahkan antara keduanya sama halnya memisahkan dua hal yang memiliki relasi erat, bahkan sampai pada derajat hubungan sebab-akibat. Karena, pengkabulan do'a manusia sholeh oleh Allah swt. disebabkan karena kepribadiannya yang luhur , dan kepribadian luhur itulah yang menyebabkan kedudukan mereka diangkat oleh Allah swt.. Tawassul jenis ini juga memiliki sandaran hadits yang diriwayatkan oleh para imam perawi hadits dari Ahlusunnah melalui jalur yang sohih yaitu riwayat tig orang yang tertutup didalam goa. Untuk menyingkat halaman, bagi yang ingin menelaah lebih lanjut hadits-hadits tersebut, silahkan merujuknya dalam kitab-kitab hadits seperti; Musnad Imam Ahmad bin Hanbal; jilid: 4 halaman: 138 hadits ke-16789; Sunan Ibnu Majah; jilid: 1 halaman: 441 hadits ke-1385; Sunan at-Turmudzi; jilid: 5 halaman: 531 dalam kitab ad-Da'awaat, bab 119 hadits ke-3578 dan kitab lainnya.

Tawassul melalui kedudukan dan keagungan hamba soleh

Disamping yang telah kita singgung pada bagian sebelumnya, jika kita telaah dari sejarah hidup para pendahulu dari kaum muslimin niscaya akan kita dapati bahwa mereka melegalkan tawassul dengan jalan ini, sesuai pemahaman mereka tentang syari'at yang dibawa oleh Rasulullah saw. Mereka bertawassul melalui kedudukan dan kehormatan para manusia Sholeh, dimana diyakini bahwa para manusia sholeh tadi pun memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah swt...

Manusia sholeh yang dimaksud disini adalah sebagaimana apa yang di kemukakan oleh Rasulallah saw. kepada Muadz bin Jabal ra ini, Rasulallah bersabda:

“Wahai Muadz, apakah engkau mengetahui apakah hak Allah kepada hamba-Nya?”. Muadz menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui'. Kemudian Rasulallah bersabda: ‘Sesunguhnya hak Allah kepada Hamba-Nya adalah hendaknya hamba-hamba-Nya itu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya terhadap apapun'. Agak beberapa lama, kembali Rasulallah bersabda: ‘Wahai Muadz !' aku (Muadz) menjawab: ‘Ya wahai Rasulallah !?'. Rasulallah bertanya: ‘Adakah engkau tahu, apakah hak seorang hamba ketika telah melakukan hal tadi?'. aku (Muadz) menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui'. Rasulallah bersabda: ‘“Ia tiada akan mengadzabnya' “. ( Lihat: Sohih Muslim dengan syarh dari an-Nawawi jilid: 1 halaman: 230-232).

Hadits diatas jelas bahwa maksud dari Sholeh adalah setiap orang yang melakukan penghambaan penuh (ibadah) kepada Allah dan tidak melakukan penyekutuan terhadap Allah swt... Dan dikarenakan tawassul (mengambil wasilah) bukanlah tergolong penyekutuan Allah –karena dilegalkan oleh Allah swt.– maka para pelaku tawassul pun bisa masuk kategori orang Sholeh pula, jika ia melakukan peribadatan yang tulus dan tidak melakukan kesyirikan (penyekutuan Allah). Orang-orang sholeh semacam itulah yang dinyatakan dalam al-Qur'an sebagai pemancar cahaya Ilahi yang dengannya mereka hidup di tengah-tengah manusia.

Allah swt.. berfirman:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan” (QS al-An'am: 122).

Atau sebagaimana dalam firman Allah swt... lainya;

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan ber- imanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepada mu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan dia mengampuni kamu. dan Allah Maha Peng- ampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hadid: 28).

Sebagaimana kita semua mengetahui bahwa, fungsi dan kekhususan cahaya adalah; “ia sendiri terang dan mampu menerangi obyek lain”. Begitu juga dengan manusia sholeh yang mendapat otoritas pembawa pancaran Ilahi.

Dari sini jelas sekali bahwa al-Qur'an telah menunjukkan kepada kita bahwa, para nabi dan manusia sholeh dari hamba-hamba Allah –seperti peristiwa umat Isa al-Masih atau saudara-saudara Yusuf (anak-anak Ya'qub)– telah melakukan tawassul. Dan al-Qur'an pun telah dengan jelas memberikan penjelasan tentang beberapa obyek tawassul. Tawassul tersebut bukan hanya sebatas berkaitan dengan do'a para manusia kekasih Ilahi itu saja, bahkan pada pribadi para manusia kekasih Ilahi itu juga. Hal itu karena antara pribadi para kekasih Ilahi dengan bacaan do'a mereka tidak dapat di pisahkan dan terjadi relasi (konsekuensi) yang sangat erat.

Tawassul melalui orang yang sudah wafat

Rasulullah bertawasul kepada nabi-nabi yang sudah wafat sebelum beliau:

"Dan sahabat Nabi Anas bin Malik, bahwasanya Nabi Muhammad Saw. berkata dalam do'a beliau begini : Ya Allah, ampunilah Fatimah binti Asad dan lempangkanlah tempat masuknya (ke kubur) dengan hak Nabi Engkau dan Nabi-nabi sebelum saya. Engkau yang paling panjang dari sekalian yang panjang". (Had its riwayat Imam Thabrani - lihat kitab Syawahidul haq hal. 154).

Tawassul melalui orang yang belum lahir

Ada beberapa ayat Al Quran dan hadis yang menyebutkan adanya tawasul kepada orang yang belum lahir.

Tawasul Nabi Adam a.s kepada Rasulullah

Tawasul ini disebut di dalam Al Quran

Penjelasan hadis juga ada. Potongan hadis (lengkapnya silakan lihat di dalil-berdoa-tawasul, dalil ke sebelas):

"Berkata Rasulullah Saw. : Pada ketika telah membuat kesalahan Nabi Adam, ia bertaubat dan berkata : Hai Tuhan, saya mohon kepada-Mu dengan hak Muhammad supaya Kamu ampuni saya.

Nabi Adam a.s sudah bertaubat dengan bertawasul dengan nabi Muhammad s.a.w, padahal nabi Muhammad s.a.w belum lahir ke dunia.

Tawasul orang Yahudi kepada Rasulullah

Disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 89 :

Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka [70] , padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

Dalam ayat tersebut dikemukakan bahwa orang Yahudi sudah bertawasul dengan seorang nabi yang akan muncul, yang kemudian ternyata nabi itu adalah nabi Muhammad s.a.w. Dalam ayat tersebut terdapat kritikan bahwa setelah nabi tersebut datang, orang Yahudi malah ingkar dengan nabi tersebut (Muhammad s.a.w). Amalan tawasul orang Yahudi itu sendiri tidak dianggap perbuatan keliru.

 

=== sekian ===

Didikan Mursyid

Sebuah tulisan dari kawan saya:

Ketika Mursyid bercerita tentang kasih sayang
Yang beliau inginkan adalah agar masing-masing kita
Memberi sebanyak mungkin kasih sayang kepada orang lain.

Ketika Mursyid bercerita tentang kesabaran
Yang beliau inginkan adalah bagaimana setiap kita
Menyiapkan bendungan besar kesabaran yang siap untuk dialirkan
kepada siapapun juga yang membutuhkannya.

Tawasul pada orang yang sudah wafat

Menurut hadis-hadis, ada beberapa perkara yang dapat dijadikan wasilah untuk tawasul:

  • amal soleh
  • orang yang masih hidup
  • orang yang sudah mati
  • orang yang belum lahir

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Tawasul dengan amal soleh

Berkat

Dalam ajaran Islam ada disebutkan berkat. Bila kita bercakap tentang berkat ini, ia adalah sangat tersirat. Padahal berkat ini orang kampung pun sebut, Kita nak berkat, Itu tak berkat. Tapi untuk tahu apa itu berkat, atas dasar ilmu susah dijawab.

Firman Allah :" Tabarakallazi biyadihil mulku wa hua 'ala kulli syain qadir "(Al Mulk:1)

Ayat ini ada hubungan dengan berkat.

Huraiannya : Maha berkat Tuhan pada tangannya ada kerajaan sedangkan Dia Tuhan yang atas segala sesuatu berkuasa

Yaqazah




Yaqazah




Definisi Yaqazah dan Musyafahah

Arti yaqazah menurut bahasa ialah jaga, sadar, bukan dalam keadaan mimpi, (yaqiza) Aiy mutayaqqizun: Hazirun: jaga, sadar, berjaga-jaga. Referensi: Mukhtarus Sihah, lisy Syeikh Al Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi, Al Maktabah Al‘asriyah, Soida, Beirut. (halaman 349)

Adapun pengertian yaqazah pada istilah pembahasan ilmu tasawuf ialah bertemu atau berjumpa dengan roh Rasulullah SAW dalam keadaan jaga (bukan mimpi) dan hal ini merupakan satu karamah wali-wali Allah.

Arti musyafahah menurut bahasa adalah bercakap-cakap antara dua pihak. (Al Musyafahah) Al Mukhatobah min fika ila fihi. Referensi: Mukhtarus Sihah, lisy Syeikh Al Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi, Al Maktabah Al‘asriyah, Soida, Beirut. (halaman 167)

Pengertian musyafahah secara istilah adalah bercakap-cakap dengan roh Rasulullah SAW atau bertanya- jawab atas hal-hal yang kurang jelas dalam agama atau menerima amalan-amalan tertentu dari baginda.

Yaqazah adalah satu perkara luar biasa yang bertentangan dengan adat kebiasaan. Hal ini menjadi salah satu sumber kekuatan para ulama yang hak (benar) dalam mempertahankan kebenaran. Imam As Sayuti apabila ingin memasukkan sebuah Hadis ke dalam kitab karangannya akan bertanya kepada Rasulullah SAW secara yaqazah: “Adakah Hadis ini daripadamu ya Rasulullah?” Jika Rasulullah SAW membenarkan, barulah beliau menuliskan Hadis tersebut. Begitu juga terjadi kepada banyak Auliya Allah.

Hukum Yaqazah

Yaqazah hukumnya dapat berlaku pada wali-wali Allah sebagai kemuliaan (karamah) yang Allah kurniakan kepada mereka. Ia adalah perkara yang bertentangan dengan adat kebiasaan (luar dari kebiasaan) pada logika manusia sedangkan masih dalam lingkungan mumkinat (boleh) bagi Allah untuk mengadakan atau meniadakannya.

Perlu diketahui perkara yang bertentangan dengan kebiasaan dapat dibagikan menjadi empat kategori, berdasarkan di tangan siapa ia terjadi:

  1. Mukjizat: berlaku kepada para rasul a.s. sebagai bukti kerasulan mereka untuk mencabar penentang-penentang mereka.
  2. Karamah: berlaku kepada kekasih-kekasih Allah (para wali) lambang kemuliaan yang Allah beri kepada mereka.
  3. Maunah: berlaku kepada orang-orang mukmin dengan berkat guru atau amalan tertentu yang diistiqamahkan.
  4. Sihir: berlaku di tangan orang-orang fasik atau kafir secara istidraj (dalam murka Tuhan).

Dalil Bisa Beryaqazah

Perlu diketahui dan difahami, ada banyak ayat-ayat Al Quran yang memberi isyarat tentang peristiwa yaqazah ini. Kalaulah ia dapat berlaku kepada para rasul a.s. sebagai mukjizat, ia juga dapat berlaku kepada wali-wali Allah sebagai karamah.

Dalil pertama: Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa a.s.

Ketika Rasulullah SAW dimikrajkan, baginda dipertemukan dengan Nabi Musa a.s. sedangkan Nabi Musa telah wafat lebih 600 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Oleh karena besarnya peristiwa ini maka Allah rekamkan di dalam Al Quran dengan firman-Nya:

Maksudnya: “Maka janganlah kamu ragu tentang pertemuanmu (dengan Musa ketika mikraj).” (Sajadah: 23)

Dalil kedua: Solat jemaah Nabi SAW dengan para rasul

Nabi Muhammad SAW bersembahyang berjemaah dengan para rasul di malam Israk sebelum baginda dimikrajkan. Firman Allah:

Maksudnya: “Dan tanyalah orang-orang yang Kami utus sebelum kamu (wahai Muhammad) di antara para rasul Kami itu.” (Az Zukhruf: 45)

Di dalam Tafsir Al Qurtubi, juzuk ke-7, ms 5915 tercatat:

Masalah bertanya kepada anbiya di malam mikraj, Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa para anbiya bersembahyang dengan berimamkan Rasulullah SAW dalam tujuh saf. Tiga saf terdiri dari rasul-rasul. Manakala empat saf lagi untuk nabi-nabi. Pertemuan Nabi SAW ini adalah dalam keadaan jaga dan Nabi SAW telah bertanya sesuatu kepada mereka di malam itu.”

Dalil ketiga: Hadis dari Abu Hurairah r.a.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Aku dengar Nabi SAW bersabda:

Maksudnya: “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku di dalam keadaan jaga dan syaitan tidak boleh menyerupai diriku.” (Sahih Bukhari, juzuk ke-9, halaman. 42)

Pengakuan Ulama Mengenai Yaqazah

Ibnu Arabi dalam kitabnya Fara’idul Fawa’id menulis:

“Adalah boleh (khususnya bagi wali Allah yang diberi karamah) untuk bertemu dengan zat Nabi SAW baik rohnya atau jasadnya kerana Rasulullah SAW seperti lain-lain nabi dan rasul, semuanya hidup bila mereka dikembalikan (kepada jasadnya) serta diizinkan oleh Allah keluar dari kuburnya.

Dalam kitab Al Khasoisul Kubra, Imam As Sayuti dalam Syarah Muslim oleh Imam Nawawi menulis:

“Jikalau seseorang berjumpa Nabi SAW (dalam mimpi atau jaga), baginda menyuruh akan sesuatu perbuatan (sunat), melarang satu larangan, menegah atau menunjukkan suatu yang baik, maka tiada khilaf ulama bahawa adalah sunat hukumnya mengamalkan perintah itu.”

Pihin Datuk Seri Maharaja Datuk Seri Utama, Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Kerajaan Brunei Darussalam, mengeluarkan fatwa melalui Pejabat Mufti, Kementerian Hal Ehwal Agama, Negara Brunei Darussalam pada 14 Jamadil Awal 1408H, 4 Januari 1988 iaitu:

“Maka nyata dari kata-kata ulama yang di atas ini bahawa berjumpa dengan Nabi SAW waktu tidur atau waktu jaga dan Nabi SAW mengajar akan sesuatu ilmu, suatu doa, suatu selawat dan suatu zikir, adalah harus (mubah) dan boleh, bagaimana telah berlaku pada ulama-ulama, ahli ilmu Islam, wali-wali Allah dan orang-orang solehin, kita berkata perkara seperti itu termasuk di bawah ertikata fadhailul a’mal. Adapun perkara halal dan haram telah tertutup dengan berhenti wahyu kepada Nabi kita dan dengan wafat Nabi kita SAW sebagaimana kita telah sebutkan di awal-awal rencana ini. Sila baca kitab-kitab mengenai wali-wali Allah seperti Syawahidul Haq karangan Syeikh Yusuf An Nabhani dan kitab Lathoiful minan karangan Al Arifbillah Tajuddin bin Athaillah As Sakandari yang meninggal tahun 709H dan Jami’u Karamatil Auliya karangan Syeikh An Nabhani dan Hilyatul Auliya oleh Al Hafiz Abu Naim dan karangan Al ‘Alamah Dr. Abdul Halim Mahmud, Mesir dan lain-lain.”

Rujukan

Kitab ulama-ulama yang membahas mengenai yaqazah:

Tautan

=== sekian ===

Penutup: Guru-guru Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani




Guru-guru Yusuf al-Nabhani




Yusuf al-Nabhani mereguk samudra ilmu dan imam-imam ternama di Al-Azhar. Di antaranya 
adalah:
  • Syaikh Yusuf al-Barqawi al-Hanbali, syaikh pilihan dari mazhab Hanbali
  • Syaikh Abdul Qadir al-Rafi'i al-Hanafi al Tharabulusi, syaikh pilihan dari masyarakat Syawam
  • Syaikh Abdurrahman al-Syarbini al-Syafi`i
  • Syaikh Syamsuddin al-Ambabi al-Syafi'i, satu-satunya syaikh pada masanya yang mendapat julukan Hujjatul Ilmi dan guru besar Universitas Al-Azhar pada masa itu. Dan gurunya ini, Yusuf al-Nabhani belajar Syarah Kitab al-Ghayah wa al-Tagrib fi Fighi al-Syafi`iyyah karya Ibnu Qasim dan Al-Khathib al-Syarbini, dan kitab-kitab lainnya dalam waktu 2 tahun.
  • Syaikh Abdul Hadi Naja al-Ibyari (wafat tahun 1305 H.)
  • Syaikh Hasan al-'Adwi al-Maliki (wafat tahun 1298 H.)
  • Syaikh Ahmad al-Ajhuri al-Dharir al-Syafi`i (wafat tahun 1293 H.)
  • Syaikh Ibrahim al-Zuru al-Khalili al-Syafi'i (wafat tahun 1287 H.)
  • Syaikh al-Mu'ammar Sayyid Muhammad Damanhuri al-Syafi`i (wafat tahun 1286 H.)
  • Syaikh Ibrahim al-Saga al-Syafi'i (wafat tahun 1298 H) Darinya, Yusuf al-Nabhani mempelajari kitab Syarab `al-Tahrir dan Manhaj karya Syaikh Zakaria al-Anshari al-Syafi`i, berikut catatan pinggir kedua kitab tersebut, selama tiga tahun, hingga Al-Nabhani dianugerahi ijazah sebagai pertanda atas kapasitas dan posisi keilmuannya.

Artikel ini adalah bagian dari buku Kisah Karomah Wali Allah karangan Syekh Yusuf bin Ismail an Nabhani

Bagian 2B Kisah Karamah Para Sahabat Rasulullah

Kisah Karamah Para Sahabat Rasulullah

Penutup: Biografi Syekh Yusuf bin Ismail an Nabhani




BIOGRAFI PENULIS




Yusuf al-Nabhani adalah ulama yang sangat alim, cerdas, wara', pemberi 
hujjah, takwa, dan ahli ibadah. Ia selalu menyenandungkan cinta dan pujian untuk 
Rasulullah Saw dalam bentuk tulisan, kutipan,riwayat, karangan, dan kumpulan syair. 
Nama lengkapnya adalah Nasiruddin Yusuf bin Isma`il al-Nabhani, keturunan Bani 
Nabhan, salah satu suku Arab Badui yang tinggal di Desa Ijzim, sebuah desa di 
bagian utaraPalestina, daerah hukum kota Haifa yang termasuk wilayah Aka, Beirut.

Al-Nabhani lahir pada 1265 H dan dibesarkan di Ijzim. Ia menghafal Al-Qur'an dengan berguru kepada ayahandanya sendiri, Isma'il bin Yusuf, seorang syaikh berusia 80 tahun. Pada usia lanjut, Isma`il bin Yusuf masih dikaruniai akal, pancaindra, kekuatan, dan hafalan yang sempuma, rajin beribadah, dan bacaan Al-Qur'an-nya sangat bagus. Setiap tiga hari sekali, Isma`il mengkhatamkan Al-Qur'an, hingga khatam tiga kali dalam seminggu. Keistimewaan dan kelebihan ini sangat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan pribadi Yusuf al-Nabhani, yang selalu dibekali hidayah dan ketakwaan dari ayahnya yang saleh di lingkungan yang bersih dan suci.

Selesai mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an, Yusuf al-Nabhani disekolahkan orang tuanya ke Al-Azhar, dan mulai bergabung pada Sabtu awal Muharram 1283 H. Ia tekun belajar dan menggali ilmu dengan baik dari imam-imam besar dan ulama-ulama umat yang kritis dan ahli ilmu syariat dan bahasa Arab dari empat imam madzhab.

Ia sangat tekun berikhtiar dan meminta bimbingan kepada orangorang berilmu tinggi yang menguasai dalil aqli dan naqli, sehingga ia dapat mereguk samudra ilmu mereka dan mengikuti metode keilmuan mereka. Hal ini berlangsung sampai bulan Rajab 1289 H. Kemudian ia mulai berkelana meninggalkan Mesir untuk ikut serta menyebarkan ilmu dan mengabdi kepada Islam, agar bermanfaat bagi kaum muslimin dan meninggikan mercusuar agama.

Ketika namanya semakin terkenal, bintangnya semakin bersinar, dan banyak orang mendapatkan bimbingan dan petunjuk darinya, ia diangkat sebagai pejabat pengadilan di wilayah Syam, dan akhirnya menjadi ketua Pengadian Tinggi di Beirut. Pekerjaannya itu dijalaninya dengan penuh kesungguhan dan niat menolong serta dianggapnya sebagai ibadah disertai niat yang tulus ikhlas. Hatinya senantiasa berzikir dan membaca Al-Qur'an, banyak bershalawat untuk Rasulullah Saw., keluarga, dan sahabat-sahabat beliau. Yusuf al-Nabhani selalu mengisi waktu malam dan siangnya dengan melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunnah tanpa henti, bosan, atau lupa. Tak terhitung banyaknya peristiwa luar biasa yang terjadi padanya, peristiwa-peristiwa yang hanya dikhususkan untuk para wali dan hamba Allah yang selalu dekat dengan-Nya.

la juga tidak meninggalkan aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan orang-orang yang luhur dan dicintai, yakni menyusun dan mengarang berbagai kitab yang sangat mengagumkan. Imam besar ini diyakini mendapatkan ilham kebenaran dari Allah. Kitab-kitabnya yang bernilai tinggi dan agung membahas berbagai disiplin ilmu; ilmu hadis, sejarah Nabi, pujian untuk Nabi, tafsir, pembelaan terhadap Islam, pujian kepada Allah Swt., kisah-kisah tentang wali-wali Allah dan orang-orang khusus-Nya, dan lain sebagainya. Kitab-kitab tersebut tidak mungkin lahir dari kemampuan individualnya belaka, tetapi dibantu dengan karamah, kekuatan, dan pertolongan dari Allah Swt. Jika Allah mencintai hamba-Nya yang benar, maka Dia menjadikan pendengaran-Nya sebagai pendengaran hamba- Nya, dan penglihatan-Nya sebagai penglihatan-hamba-Nya.

Artikel ini adalah bagian dari buku Kisah Karomah Wali Allah karangan Syekh Yusuf bin Ismail an Nabhani

Apakah Hati Patut Tenang Ataukah Bergelora Bila Mengingat Allah ?

Hati adalah alat untuk mengingat dan berzikir kepada Tuhan. Tempat untuk kita sadar dan insyaf bahwa Allah itu wujud dan kita ini hamba dan ciptaanNya.Hati adalah tempat untuk merasa berTuhan. Untuk merasakan bahwa Allah itu Maha Berkuasa, Maha Agung, Maha Hebat dan Maha Kaya. Untuk merasakan Allah itu Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Untuk merasakan Allah itu Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana dan sebagainya.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer