Ramadhan untuk Menghidupkan Hati

Janganlah Ramadhan dijadikan pesta makan minum.
Janganlah jadikan Ramadhan banyak tidur-tidur saja di siangnya.
Janganlah jadikan Ramadhan selepas sedikit ibadah sembahyang kemudian ngobrol dan relax-relax yang banyak.
Setelah berbual yang banyak pulang ke rumah kemudian tidur, malam tidak bangun pula menghidupkan malam bersama Tuhan.
Ramadhan bukan sekedar menghidupkan malam, siang berlapar-lapara dan berletih-letih.

Ramadhan adalah untuk menghidupkan fikiran, hati dan jiwa dengan rasa bertuhan.
Ramadhan hendak memeriahkan jiwa dengan rasa kehambaan, rasa hina, rasa lemah dan rasa kerdil di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa.
Ramadhan hendak mengimarahkan jiwa dengan rasa rendah diri, takutkan Tuhan, cintakan-Nya, rasa bertuhan sentiasa.
Ramadhan hendak menghidupkan jiwa timbang rasa sesama manusia.
Rasa kasih sayang, simpati sesama manusia yang derita, yang tidak punya apa-apa.
Ramadhan hendak menebalkan rasa berdosa, takut kalau terlibat lagi dengan dosa.
Ramadhan hendak rasa agung-Nya Tuhan, hebat dan kuasa-Nya Tuhan.
Ramadhan bukan sekedar ibadah lahir-lahir yang meriah dan ceria yang dalam gelap-gulita.
Yang penting jiwa hendak dihidupkan, memeriahkan yang di dalam jiwa.

Tuhan pandang bukan yang lahiriah tapi yang di dalam(hati).
Tuhan hendak melihat yang di dalam bathin manusia apakah hidup jiwanya rasa bertuhan.
Siangnya berpuasa, malam sembahyang, banyak membaca Al Quran untuk memberi cahaya kepada jiwa yang selama ini gelap-gulita.
Membanyakkan berzikir bukan lafaznya tapi penghayatannya.
Berzikir bukan sekedar menyebut di lidah tapi menyebut di hati, dirasa oleh jiwa.
Berzikir bukan di lidah tapi ingatan di hati.

Kedatangan Ramadhan adalah dengan tujuan hendak menghidupkan hati yang mati sebelumnya.
Moga-moga kesan sebulan menghidupkan hati dapat bertahan setahun lamanya.
Kemudian Ramadhan datang lagi hidupkan pula lagi hati yang mati tahan pula setahun lagi.
Itu bagi orang awam yang selalu saja cuai dan lalai.
Bagi orang yang bertaqwa jiwanya hidup setiap masa.
Kedatangan Ramadhan hanya untuk darjat dan pangkat di sisi Tuhannya.
Tapi kalau kedatangan Ramadhan tidak pun menghidupkan jiwa.
Luar meriah di dalam tidak meriah.
Luar terang-benderang dengan syariat lahir, syariat batinnya gelap.
Kalau di luar Ramadhan tentulah lebih-lebih lagi malang.
Gelaplah hati sepanjang tahun.
Tidak ada masa hati yang terang, sungguh malang.

Menghidupkan HATI Bukan hanya

Menghidupkan HATI
Bukan hanya menunggu bulan ramadhan untuk menghidupkan hati
Berlatihlah sesuai dengan syariat yang berlaku
Nilailah kehidupan diri terhubung dengan syariat
Introspeksi diri untuk meningkatkan keimanan secara terus menerus
Berhasil tidaknya semua ibadah akan tercermin...dan dinilai
Dinilai dari AKHLAK MULIA kita sebagai umat manusia
Temukan HATI,
Hidupkan HATI,
Terangkan HATI,
Dengarkan HATI,
Persatukan HATI....
Berjalanlah di jalan Tuhanmu
(hamba 4JJ I)

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer