Rasulullah SAW dan Seorang Budak Kecil

Rasulullah SAW dan Seorang Budak Kecil
Pada suatu hari Rasulullah SAW sedang berjalan menuju pasar. Di tengah jalan baginda bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang menangis. Rasulullah pun berhenti sejenak dan bertanya pada anak tersebut: “Wahai anak kecil, mengapa engkau menangis?”

Anak itu menjawab: “Aku adalah seorang hamba sahaya. Tuanku memerintahkan aku membeli barang ke pasar, tapi karena kesalahanku aku menghilangkan uang yang telah diberikan majikanku. Aku takut pulang dengan tangan kosong karena tuanku pasti marah”

Rasulullah segera memberikan uang pada anak itu untuk mengganti uangnya yang hilang. Dengan lembut beliau berkata, “Terimalah uang ini sebagai pengganti uangmu yang hilang.”

Anak itu pun segera menerimanya dengan suka hati. Kemudian Rasulullah segera melanjutkan perjalanannya ke pasar untuk membeli keperluannya. Setelah selesai berbelanja beliau pun pulang. Tapi di tengah jalan kembali baginda bertemu dengan anak tadi. Anak itu sedang menangis.

Rasulullah segera menegurnya, “Wahai anak kecil, mengapa engkau belum pulang? Bukankah keperluanmu sudah engkau dapatkan? Apakah yang menyebabkan hatimu sedih?” Anak itu menjawab, “Aku sudah membeli barang pesanan tuanku. Tapi sekarang aku takut pulang karena terlambat. Tuanku pasti marah dan dia akan memukulku.”

Rasulullah merasa kasihan. Beliau berkata, “Jika begitu marilah aku antar pulang. Semoga tuanmu tidak memarahimu jika engkau kuantar.” Anak itu segera berdiri dengan hati lega dan mereka pun berjalan menuju rumah majikan anak itu. “Assalamu’alaikum,” Rasulullah mengucapkan salam di depan pintu rumah anak itu. Tak ada jawaban. Rasulullah mengulang salamnya hingga tiga kali barulah terdengar jawaban, “Wa’alaikum salam ya Rasulullah.” Tuan rumah pun membuka pintu,

“Kami mohon maaf karena baru kali ketiga salam tuan kami jawab. Kami hanya ingin Rasulullah mendoakan kami sebanyak-banyaknya melalui salam tersebut. Ada keperluan apakah Rasulullah sendiri datang ke rumah kami?”

Rasulullah menjawab: “Aku mengantar anak ini pulang. Tadi dia menangis di jalan. Dia takut karena terlambat pulang. Dia bilang, majikannya pasti akan memukulnya. Jika memang begitu, aku bersedia menjadi pengganti anak ini. Kalian boleh memukulku.”

Beliau segera menyingsingkan bajunya dan terlihat sebagian punggung Rasulullah yang putih. Majikan anak tersebut menjadi ketakutan dan bingung. Dengan gemetar dan menangis mereka berkata: “Celaka kami jika kami menyakiti Tuan. Tidak, kami tak akan memarahi anak itu. Untuk seterusnya kami tak akan memukulnya lagi.”

Dengan lega Rasulullah menutup kembali bajunya dan setelah beramah tamah sejenak, beliau segera pulang.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer