Perkara Yang Sudah Hilang Dari Umat Islam

Kalau kita pertanyakan perkara apa yang sudah hilang dari umat Islam saat ini, maka kebanyakan orang akan menyoroti tentang hilangnya ilmu pengetahuan dari umat Islam. Karena seperti diketahui bahwa memang dahulu umat Islam pernah menjadi suatu imperium yang mengusai dunia termasuk bidang ilmu pengetahuan seperti Filsafat, Sains, Kedokteran, Matematika, dsb yang ditunjang dengan ruh atau ilmu tentang Quran dan Hadits sehingga sampai menjadi tempat rujuk dan kiblat bagi ilmuwan seluruh dunia, bahkan bangsa Eropa sekalipun. Jadi bisa dipastikan bahwa ilmu yang dikuasai dan didalami bangsa Barat sekarang adalah warisan dari dunia Islam masa lalu, sehingga mereka bisa menguasai ilmu pengetahuan bahkan kondisi sekarang kita merujuk kepada mereka.

Sebenarnya kalau kita mau melihat lagi dengan kacamata Islam itu sendiri, maka akan banyak perkara yang hilang dari umat Islam, yaitu perkara yang amat berharga, penentu keselamatan dan kemuliaan umat Islam di dunia ini dan lebih–lebih lagi di akhirat. Oleh karena itu kita sebagai umat Islam perlu bahkan sebagiannya wajib bagi kita untuk mendapatkannya kembali.

Perkara yang telah hilang dari umat Islam sekarang ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kehilangan secara khusus dan secara umum.

Kehilangan secara khusus misalnya: hilangnya khusuk dalam sembahyang, hilangnya keadilan pemimpin, hilangnya sifat berani, kasih sayang dan zuhud dari para ulama, hilangnya sifat malu dari wanita, hilangnya sabar dari fakir miskin, hilangnya ilmu dari orang yang beribadah, hilangnya lemahlembut dan sifat bijaksana dari para pejuang Islam, hilangnya amanah, dsb.

Kehilangan secara umum misalnya: hilangnya rasa ber-Tuhan, hilangnya rasa cinta dan takut dengan Tuhan, hilangnya rasa cinta dengan Akhirat, hilangnya rasa tawakal, redha, qinaah, toleransi dan persahabatan sesama muslim, hilangnya peradaban Islam, hilangnya ilmu pengetahuan, hilangnya pemimpin bertaraf ummah, hilangnya akhlak mulia, hilangnya ukhuwah dan kasih sayang, hilangnya cemburu kepada agama dan wanita, dsb.

Itulah perkara yang hilang dari umat Islam saat ini, sehingga umat Islam menjadi miskin dalam semua hal, dari segi material, moralitas, miskin dunia lebih–lebih lagi Akhirat, miskin yang bersifat maddi lebih–lebih lagi yang bersifat maknawi dan ruhani. Sehingga kita umat Islam saat ini menjadi umat yang tidak berwibawa, hanya menjadi umat yang mengikut saja, terhina dimana–mana secara lahir lebih-lebih ruhani sekalipun negara Islam tanpa ada yang membela, hilang kemerdekaan.Hal ini karena kita yang wajib membela pun sebagian telah kehilangan aset–aset dalam diri kita sendiri. Bukanlah karena musuh yang kuat, tapi kitalah yang lemah baik lahir maupun ruhani. Lemah perhubungan kita dengan Tuhan kita, ALLAH, yang kuasanya meliputi apa saja.

Oleh karena itu kalau kita umat Islam ini ingin mengembalikan perkara yang hilang itu maka diperlukan suatu perjuangan yang tidak main-main. Memerlukan perjuangan yang gigih dan penuh pengorbanan.

Suatu perjuangan yang penuh kebijaksanaan, tersusun dan berdisiplin. Memerlukan orang yang bisa memimpin yang bisa menjadi contoh dalam ketaqwaan, ilmu serta kepemimpinannya. Memerlukan ketaatan dan kesetiaan dari pengikutnya. Memerlukan role model atau contoh bagaimana melahirkan akhlak dan sistem Islam yang sejati dari pemimpin dan pejuang–pejuang Islam

Saat ini karena sebagian besar umat Islam memandang serius bahwa yang hilang adalah ilmu pengetahuan, maka usaha untuk mengembalikannya pun tampak bersungguh–sungguh, walaupun belum mencapai tujuan. Tapi alangkah sedihnya, perkara–perkara lain tidak dianggap hilang dan penting sebagaimana dianggap pentingnya ilmu pengetahuan, maka usaha untuk mengembalkan perkara itu pun tidak sehebat dan seserius mengembalikan ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian kita malah tidak perhatian sama sekali tentang melahirkan cinta dan takut kepada ALLAH, ukhuwah, akhlak, kasih sayang, mengusahakan khusuk sembahyang, berlemah lembut dll.

Sebagai contoh, seorang ibu atau bapak atau guru apabila seorang anak mendapatkan nilai buruk di sekolah atau tidak lulus maka dia akan susah hati, marah-marah, risau dan memberikan banyak sekali nasihat. Tapi kalau si anak tidak berakhlak, tidak sembahyang maka kalaupun tidak senang maka menegurnya pun tidak seserius tadi, bahkan hanya bisa mengelus dada, padahal sembahyang ini lah tiang agama, penentu keselamatan kita dunia lebih lagi akhirat. Ataupun jika mengusahakan atau memperjuangkan Islam pun tidak berhikmah, tidak berkasih sayang dan tidak bijaksana, menakutkan dsb. Padahal sebenarnya Islam itu indah.

Kenapa bisa begitu? Karena yang sebenarnya ada di pikiran kita, tujuan kita, hanya sebatas keuntungan duniawi semata. Jadi kita hanya memperjuangkan yang kita rasa menguntungkan saja. Walhal pekara yang kita rasa tidak menguntungkan secara duniawi tidak diperjuangkan sama sekali. Begitulah cara berpikir umat saat ini.

Padahal kekuatan umat Islam, eksistensinya, kemerdekaannya, kemajuannya, kebahagiannya, kejayaannya, bukan ditentukan faktor ilmu pengetahuan semata. Tapi ditentukan oleh semua faktor tadi. Maka kita sebagai umat Islam wajib memperjuangkan semua itu agar menjadi milik kita. Memperjuangkan Islam (peraturan Tuhan) dengan bersungguh-sungguh seharusnya pada hakikatnya adalah memperjuangkan Tuhan. Maka disitulah letak kemuliaan, di situlah letak keampunan Tuhan dan di situlah keberkatan dari Tuhan. Amin.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer