Konfirmasi tentang adanya mayat di kubah hijau

Benar ada mayat di atas kubah Masjid Nabawi

Sumber: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=16...

Informasi tentang adanya sesosok mayat di atas kubah hijau Masjid Nabawi yang saya tulis di Harian Waspada (Mimbar Jumat 17 Desember 2010), mendapat bantahan dari Saudara Arifin Sakti pada 7 Januari 2011 di Harian Waspada yang intinya tidak membenarkan peristiwa itu terjadi. Bantahan beliau diperkuat oleh persaksian dua orang gurunya yang sudah lama belajar di Madinah dan seorang gurunya lagi yang setiap tahun datang ke Madinah tidak pernah melihat sesosok mayat di atas kubah hijau Masjid Nabawi.

Sebuah informasi atau khabariah di dalam ilmu Balaghah bolah saja dipercaya dan boleh juga ditolak, apalagi informasi tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah ibadah, terlebih-lebih dalam persoalan akidah. Kejadian itu bukan hanya sekadar informasi yang membuat kita terkesima mendengarnya, bahkan lebih dari itu, merupakan fakta yang tidak dapat dibantah dan selama ini terkesan ditutup-tutupi oleh paham tertentu yang berkepentingan untuk melanggengkan dan mempromosikan alirannya.

Pada mulanya saya hanya sekadar melihat-lihat ke arah kubah hijau Masjid Nabawi, sambil merenung mengapa harus ada dua kubah berdekatan di atas mihrab raudah dan bekas rumah Nabi Muhammad Saw, dan di bawah kubah hijau Masjid Nabawi adalah kuburan Rasulullah Saw dan dua orang sahabatnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra. Setelah memandang lebih fokus lagi ke arah puncak kubah hijau tersebut, terlihat oleh saya seperti bongkahan, sehingga kelihatan kubah itu seperti tidak rata karena ada sesuatu di atasnya. Jika diperhatikan secara seksama, semakin jelas ada sesuatu yang menempel di atas kubah tersebut dan sudah menyatu warnanya dengan warna kubah.

Kecurigaan saya menjadi-jadi disebabkan ada salah seorang jamaah saya dari Singapura mengatakan, mungkin bongkahan itu adalah mayat manusia yang bermaksud untuk menghancurkan kubah hijau tersebut. Pada mulanya saya tidak percaya dengan ucapan salah seorang jamaah saya itu, saya beranggapan dia hanya berlekakar. Oleh sebab itu saya tidak menimpali pembicaraannya.

Setelah saya pulang ke penginapan Hotel Movinpick (di sebelah sudut kanan belakang Masjid nabawi), saya teringat untuk membuka internet sambil melihat-lihat perkembangan informasi di tanah air. Secara kebetulan, dengan membuka jendela Google, tanpa susah payah, saya mengetik “Ada mayat di atas kubah Masjid Nabawi” tampil kubah hijau dan di atasnya terlihat amat jelas sesosok mayat yang ditutupi dengan sesuatu yang dicat dengan warna hijau, dan tanpa ada niat untuk menimbulkan sensasi, saya pelajari komentar-komentar yang tertulis di samping gambar tersebut, baik dalam berbahasa Arab maupun bahasa Indonesia, dan menjadi bahan ceramah di hadapan jamaah saya asal Singapura yang bergabung dengan Travel Hahnemann. Tidak sekadar ceramah, saya bawa semua jamaah untuk menyaksikan langsung dari halaman Masjid Nabawi.

Persoalannya, bukan sekadar sesosok mayat atau apakah benar atau tidak peristiwa tersebut? Terlalu naif menghabiskan waktu soal itu. Di balik peristiwa itu ada skandal besar yang ditutup-tutupi yaitu upaya memindahkan jasad Rasul Saw, Abu Bakar dan Umar dari tempatnya. Paling tidak dipisahkan kuburan Nabi Saw dan dua orang sahabatnya dari Masjid Nabawi, dengan cara menggusur kubah hijau tersebut, sehingga tidak terlihat menyatu antara kuburan dan raudah, yang mana pada mulanya kuburan tersebut adalah kamar Aisyah isteri Nabi Saw dan rumah Rasul Saw karena kesalahan kerajaan Islam terdahulu maka kuburan tersebut termasuk bagian dari masjid.

Memang benar ada Hadis Nabi Saw yang melarang menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid. Diriwayatkan dari ibnu Abbad ra bahwa Rasul Saw bersabda: Allah Swt melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid. (lihat Fathul Bari Juz I hal 634 hadis no.436)

Ibnu Hajar menjelaskan makna Hadis di atas adalah larangan untuk mengagungkan dan membesarkan kuburan, bukan larangan membuat masjid di dekat kuburan atau kuburan berada di dalam masjid. Di manapun letaknya, kuburan tetap tidak dibolehkan untuk dibesarkan seperti orang menghormati masjid. Sama halnya kuburan Nabi Saw yang berada di dalam masjid orang datang ke kuburan beliau tidak bermaksud untuk memuja-muja kuburannya, akan tetapi sekadar untuk berziarah karena Nabi bersabda: Siapa-siapa menziarahiku setelah aku wafat sama seperti menziarahiku semasa aku hidup. (al-hadis)

Lebih tegas lagi larangan tersebut dipahami sebagai larangan untuk memberhalakan kuburan. Dengan kata lain, bukan larangan keberadaan kuburan di dalam masjid, adalah kutukan Allah kepada orang Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka. Padahal sejarah menjelaskan bahwa orang-orang Nasrani tidak memiliki kuburan Nabi mereka yaitu Nabi Isa as. Itu artinya larangan atau kutukan Allah terhadap orang Yahudi dan Nasrani menjadikan kuburan sebagai masjid tidak dapat dipahami secara harfiah. Bukanlah bangunannya yang mesti dirobohkan, bukan kuburannya yang mesti diratakan, akan tetapi robohkanlah khurafat yang ada di dalam hati manusia.

Di sinilah kesalahan ulama besar Muhammad bin Abdul Wahab (1703 m – 1787 m) dalam memberantas khurafat yang terjadi di Makkah dan Madinah. Sampai-sampai kuburan Nabi pun jika perlu dipindahkan dan kubah yang menaunginya dihancurkan. Allah Swt menunjukkan kekuasaan-Nya dengan “menembak mati” orang yang diberi upah untuk merobohkan kubah hijau Masjid Nabawi dengan sambaran kilat, sehingga tidak ada satu orang pun yang mampu menurunkan mayatnya hingga sekarang. Walaupun peristiwa sudah berlalu 90 tahun, namun Allah Swt tetap memperlihatkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah (kisah ini diceritakan oleh Syekh Azzubaidi, ahli sejarah di Madinah Al-Munawwarah).

Meratakan kuburan sehingga menghilangkan sejarah, dan tidak dapat dibedakan kuburan para sahabat yang senior dan yunior antara isteri-isteri Nabi dan para wanita-wanita isteri para sahabat, bukanlah satu-satunya cara untuk memberantas khurafat. Nabi Isa as. tidak ada kuburannya mengapa dikhurafatkan, disembah oleh orang-orang Nasrani? Benarkah Syekh Muhammadf bin Abdul Wahab dan Ibnu Taimiyah sangat berjasa dalam memerangi khurafat, seperti yang diidolakan oleh Saudara Arifin Sakti Siregar? Wallahua’lam bil ash-shawab

Penulis adalah Pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara, Pembantu Rektor IV Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan

Larangan Membangun di Atas Kubur

Aktor ketiga Imam Asy-Syafii:
"Aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur (disemen) karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan, dan kematian bukanlah tempat salah satu dari keduanya (hiasan dan kesombongan), dan aku tidak melihat kuburan kaum muhajirin dan kaum anshar dikapuri" [Al-Umm 2/631, tahqiq DR Rif'at Fauzi Abdul Mutholib, Daar Al-Wafa].

Aktor keempat: Para penguasa Makkah zaman Imam Asy-Syafii:
Tampaknya Al-Imam Asy-Syafi’i tidak hanya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kuburan yang dibangun, beliau bahkan benar-benar menyetujui perbuatan para penguasa Makkah yang menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan (Al-Umm, 1/277):
Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i t: “Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahwa Rasulullah  telah melarang kuburan dibangun atau ditembok. Saya sendiri melihat sebagian penguasa di Makkah MENGHANCUR-KAN SEMUA BANGUNAN DI ATASNYA (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut."(Al-Umm, 1/277)

Jadi...Sepertinya, Muhammad bin Abdul Wahhab dan kaum Wahhabi ini mengekor jejak para penguasa Makkah di zaman Imam Asy-Syafi’i untuk menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan!!!

mayat di atas kubah hijau

mayat di atas kubah hijau yang memayungi makam rosululloh adalah BENAR ADANYA alias FAKTA

kabarnya itu jendela utk

kabarnya itu jendela utk membersikan atap/ngecat kubanya,ada tali juga distu sbgi alat bantu saal melakukan tugas pembersihan,,,,buat berita yg jelas.tanya sama pengurus masjid nabawi langsung aja,,,,,

bonek muslim

Kabar bohong!!
Lagi-lagi
kebohongan yang
disebarkan
oleh makar Syiah.
Memang sengaja
disebar oleh
Syi

Membongkar Kubah Hijau

c) Membongkar Kubah Hijau:
Dalam kitabnya yang berjudul, Tahdzir al-Sajid min Iitikhadz al-Qubur Masajid muka surat 68, al-Albani mengajak kaum muslimin untuk membongkar al-qubbah al-khadra' (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah SAW) dan mengajak mengeluarkan makam Rasulullah SAW dan makam sayyidina Abu Bakar dan sayyidina Umar ke lokasi luar masjid Nabawi. al-Albani menganggap posisi makam Rasulullah SAW dan kedua sahabat tercinta beliau, yang berada dalam lokasi Masjid Nabawi itu, sebagai sebuah fenomena penyembahan berhala (zhahirah watsaniyyah)- na'udzu billah min dzalik.

Tentu saja, ajakan al-Albani ini sebagai indikasi kebenciannya yang mendalam kepada Rasulullah SAW. Dengan pandangannya ini, berarti al-Albani telah menyalahkan dan menilai sesat seluruh umat Islam sejak generasi salaf yang saleh, yang telah membiarkan dan menganggap baik posisi makam Rasulullah SAW dan makam kedua sahabat beliau tercinta ini dalam lokasi Masjid Nabawi. Sementara para ulama telah bersepakat, bahwa orang yang berpendapat dengan suatu pendapat yang isinya mengandung penilaian sesat terhadap seluruh umat, maka hukumnya adalah kafir. Dalam hal ini, al-Hafiz al-Qadhi

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer