Menjadikan Kuliah Sebagai Ibadah

Dalam masyarakat, termasuk di kalangan ulamaulama serta mubaligh-mubalighnya, sepertinya telah menjadi darah daging sebuah pernyataan yaitu: "Kejarlah akhirat, tapi kejar pula dunia. Fifty-fiftylah, 50% untuk dunia, 50% untuk akhirat". Pada mereka yang berfahaman fifty-fifty ini hanya dengan melaksanakan sembahyang, haji, puasa, doa, baca Al Quran itu saja yang dikiranya amalan akhirat. Sedangkan bila bertani, berdagang, berkebun, berternak, menjadi pejabat, pekerja pabrik, memimpin masyarakat dianggap sebagai amalan dunia. Dengan demikian amalan dunia itu tidak perlu lagi diselaraskan dengan ajaran Islam. Seolah-olah amalan dunia dan amalan akhirat itu terpisah. Perkara dunia sendiri, perkara akhirat sendiri.

Kekeliruan ini perlu dibetulkan. Mari bersama-sama kita kaji ketidakbenaran dalam memberikan pengertian dunia dan akhirat. Sebelum itu, mari kita lihat pengertiannya yang sebenarnya satu persatu.

Apa itu dunia? Dunia yang dimaksudkan di sini ialah sesuatu yang dibuat atau dikerjakan yang tidak mendatangkan pahala di akhirat atau tidak mendapat keredhoaan ALLAH SWT.

Apa itu akhirat? Akhirat ialah sesuatu perkara yang dibuat atau yang dikerjakan sehingga kita mendapat pahala dan ganjaran atau mendapat keredhaan ALAH SWT. Amalan atau pekerjaan akan menjadi amalan akhirat bila mengikuti lima syarat berikut:

1. Niatnya betul.
2. Perkara yang hendak dilakukan tidak melangar syariat
3. Pelaksanaan mengikuti syariat
4. Hasilnya tidak digunakan untuk hal yang melanggar syariat
5. Tidak meninggalkan ibadah asas dalam ajaran Islam (Shalat, Puasa, Zakat).

Tegasnya, sesuatu perkara atau pekerjaan yang kita laksanakan akan jadi amalan akhirat (diberi pahala) bila memenuhi lima syarat tadi. Jika sebaliknya, jadilah amalan itu sebagai amalan dunia. Artinya tidak mendapat keredhaan ALLAH SWT (ia tidak dapat pahala). Bahkan adakalanya amalan tersebut bisa membawa kepada dosa.

Sekarang kita lihat bagaimana kegiatan kuliah yang kita jalani bisa menjadi sebuah ibadah kepada ALLAH dan menjadi amalan akhirat.

1. Niatnya betul Niat yang benar dalam menuntut ilmu adalah untuk merasakan kebesaran Tuhan. Boleh juga berniat untuk melepaskan diri dari kebodohan atau menuntut ilmu fardhu kifayah sehingga dapat menyelesaikan masalah umat Islam dalam bidang ekonomi, sains dan teknologi, dan seni budaya. Jangan belajar karena menginginkan gaji, nama atau pangkat, untuk bermegah-megah dan ingin masyhur. Ketika diniatkan besok kalau lulus bisa kerja di perusahaan multi nasional dan bisa dapat gaji, maka kuliah selama 4 tahun (kalau lancar) hanya akan jadi amalan dunia dan tidak akan berarti apa-apa di akhirat.

2. Ilmu yang dipelajari mesti sah mengikut syariat dan tidak melanggar syariat. Contohnya: ilmu usuluddin, fiqih, kedokteran, engineering, pertambangan, dan lain-lain. Jangan belajar ilmu yang haram seperti ilmu sihir.

3. Pelaksanaannya mengikuti syariat Islam. Umpamanya tidak bergaul bebas lelaki Perempuan, tidak membuka aurat.

4. Hasil dari belajar tadi, ilmunya digunakan untuk manfaat diri dan masyarakat. Masyarakat jadi cerdik dan tidak jahil dengan adanya mereka. Baik dengan lahirnya pakar-pakar dalam Ilmu Islam atau ilmu kemahiran seperti engineer, perawat, dokter, guru, peneliti, dan berbagai spesialisasi lainnya. Dengan demikian, semua ini dapat membantu membangun syiar Islam di semua aspek kehidupan dan Islam akan jadi mulia dengan adanya ahli-ahli ilmu yang bertanggungjawab.

5. Dalam belajar tadi, jangan sampai meninggalkan ibadah-ibadah yang asas seperti mempelajari ilmu fardhu ain, sembahyang, dan puasa. Terkadang, karena sibuk belajar dalam kuliah atau mengerjakan tugas, shalat kita lalaikan atau dilaksanakan di akhir waktu. Jika demikian adanya, walaupun 4 syarat terdahulu sudah dapat dilaksanakan tetapi ketika syarat terakhir ini diabaikan maka belajar kita hanya akan jadi amalan dunia saja.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer