Berjuang Untuk Masyarakat Lebih Utama Dari Ibadah Sunat


20/11/2006

Di zaman sekarang ini ramai orang salah tafsir tentang pengertian ibadah yang sebenarnya. Ramai di kalangan mereka berpendapat bahawa ibadah itu hanya menghendaki manusia solat, berpuasa, menunaikan haji, berdoa dan berzikir semata-mata.

Apakah hanya itu ruang lingkup pengertian ibadah? Akan terbatas segala syariat Islam sekiranya hanya itu yang meliputi bidang ibadah.

Sebenarnya ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam. Itulah yang kita amalkan dalam hidup kita sehari-hari asalkan tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah. Allah menginginkan segala yang kita lakukan dalam hidup menjadi ibadah, iaitu cara kita berpakaian, cara kita mengatur rumah tangga, bentuk perjuangan kita, pergaulan kita, percakapan dan perbincangan kita, semuanya menjadi ibadah, sekalipun kita berdiam diri juga dapat berbentuk ibadah.

Di samping itu aspek-aspek lain seperti pendidikan dan pelajaran, ekonomi dan cara-cara berekonomi, soal-soal kenegaraan dan perhubungan antarabangsa pun, semua itu dapat menjadi ibadah kita kepada Allah. Itulah yang dikatakan ibadah dalam seluruh aspek kehidupan kita baik yang lahir mahupun yang batin. I

badah yang berkaitan dengan kemasyarakatan ini sebenarnya lebih penting dan besar dari pada ibadah-ibadah sunat, sebab ia berkaitan dengan kepentingan dan keselamatan orang banyak. Ibadah sunat hanya berkaitan dengan keselamatan diri saja. Itupun kalau dibuat dengan sungguh-sungguh dan dijaga kekhusyukannya.

Sebagai contoh, suatu hari Imam Syafie bertamu dan menginap di rumah Imam Hambali. Imam Hambali berkata kepada anak perempuannya, "Kita bertuah dapat tetamu orang besar Allah. Hebat Imam Syafie ni, dia ulama yang juga pemimpin."

Tetapi malam itu ketika mereka bangun mengerjakan solat malam, mereka tidak melihat Imam Syafie bangun mengerjakan solat malam. Anak perempuan Imam Hambali bertanya kepada ayahnya, "Ayah kata Imam Syafie seorang ulama besar, tetapi mengapa dia tidak bangun mengerjakan sembahyang malam."

Ayahnya Imam Hambali terpukul dan merasa malu. Orang yang dia kata ulama besar tidak nampak kebesarannya. Maka dengan penuh beradab dan tawaduk Imam Hambali bertanya kepada Imam Syafie, "Maaf tuan, apakah tuan sedang tidak sihat?"

Imam Syafei menjawab, "Alhamdulillah, saya sihat dan baik-baik saja. Ada apa gerangan?"

Imam Hambali bertanya lagi, "Maafkan saya bertanya tuan sakit atau tidak sebab anak saya melihat tuan tidak bangun mengerjakan solat malam."

Imam Syafie menjawab, "Saya tidak bangun mengerjakan solat malam kerana memikirkan masalah-masalah umat. Alhamdulillah semalam saya dapat menyelesaikan 100 masalah umat."

Dengan penuh malu Imam Hambali berjumpa dengan anaknya dan berkata, "Memang dia ulama besar. Kita beribadah untuk diri kita saja, dia semalam bekerja keras untuk menyelesaikan 100 masalah umat."

Begitulah kebesaran Imam Syafie, dalam keadaan tidur terlentang dia dapat memikirkan dan menyelesaikan 100 masalah umat dalam satu malam.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer