Menghayati ALLAH Dalam Kehidupan

Kalau pengaruh kebesaran ALLAH sudah sangat terasa dalam jiwa kita, maka ketika kita berbuat apa saja selalu teringat dengan ALLAH. Misalnya bila kita sedang makan tiba-tiba ada harimau, apakah rasa ingin makan masih ada? Tentu rasa takut pada harimau lebih besar mempengaruhi jiwa kita daripada rasa ingin makan. Contoh lain, bila kita sayang dengan anak bungsu tiba-tiba dipisahkan tentu akan terkenang selalu. Begitu juga sang anak, bila ibunya di rumah sakit, walaupun dia berada di rumah tentu hatinya teringat dengan ibunya.

Kalau ingat ALLAH itu masih diakal, ketika kita berpikir lain, maka ingatan akan ALLAH akan hilang. Sebab itu ALLAH mesti dirasakan dengan hati, sehingga walaupun akal berpikir, hati selalu terkenang dengan ALLAH, hingga tidur pun masih terbawa rasa berTuhan. Walaupun fisiknya tidur, tapi ruhnya bekerja. Seperti seorang wali ALLAH, dalam tidur dia bertahlil.

Sebab itu dalam hadist disebutkan jangan minta kewalian tapi mintalah istiqomah. Istqomah adalah ciri kewalian. Lebih-lebih lagi istiqamah dalam menghayati ALLAH.

Supaya rasa berTuhan dan rasa kehambaan ini tidak padam, tidak pudar, maka bermacam-macam jalan dapat ditempuh, seperti melihat alam terasa kebesaran ALLAH, melihat orang sakit teringat kuasaNya, melihat rezeki teingat nikmat dan rahmatNya. Telebih lagi membaca Quran, dimana Quran itu membangun jiwa. Tapi membaca dengan faham dan dihayati.

Selain mengingat mati, banyak hal lain yang membuat kita ingat ALLAH. Sepatutnya ketika kita ingin makan, minum, berkendaraan berpakaian, selalu ingat itu pemberian ALLAH. ALLAH yang memberi. Baru disusul dengan syukur. Jadi kalau kita ingat itu dari ALLAH timbul rasa malu. Barulah akal kita dapat berfikir, “Aku tidak layak dengan ini ALLAH, janganlah engkau memberi ini dengan istidraj, berilah dengan keredhaanMu.”

Misalnya ketika melihat makanan, kita terfikir dua hal, pertama teringat ALLAH yang mempunyainya, jangan-jangan Dia memberi dengan istidraj atau dengan dengan murka. Kemudian teringat dengan manusia lain. Berapa ribu orang yang mengusahakan dan terlibat di dalamnya mengusahakan makanan ini. Jangan-jangan orang yang mengusahakan itu miskin dan papa, tidak makan. Kita goyang-goyang kaki dapat makan. Berapa banyak orang miskin yang mengusahakannya, buahnya kita dapat. Apakah kita tidak malu? Jadi kalau kita hidup, doakanlah mereka. Mudah-mudahan meraka dapat hidayah. Doa tak perlu angkat tangan, “Ya ALLAH berilah mereka itu petunjuk, murahkan rezeki mereka, ampunkan mereka.” Jadilah makanan itu berkah.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer