Mengapa Manusia Tidak Bisa Bersatu Padu ( II-habis )

Setelah kita mengetahui jenis-jenis perpaduan yaitu secara persamaan kebutuhan, secara akal atau ideologi, dan perpaduan yang berdasarkan hati dan iman maka selanjutnya mari kita coba kaji hakikat perpaduan yang sebenarnya. Perpaduan merupakan satu rahmat dari Tuhan. Perpaduan adalah nikmat bagi manusia. Masyarakat bersatu-padu, tolongmenolong, saling membela, berkasih sayang, bertenggang rasa. Masyarakat menjadi kukuh dan kuat. Apa saja yang akan dibuat menjadi mudah karena semua pihak memberi kerjasama. Keselamatan terjamin karena tidak banyak pihak yang berani menggugat masyarakat yang bersatu padu. Juga tidak banyak perselisihan yang terjadi. Kalaupun ada perselisihan, itu mudah saja diselesaikan.

Lawan dari perpaduan adalah pepecahan. Perpecahan adalah satu bala dari Tuhan. Apabila masyarakat berpecah-belah maka akan timbulah bermacam-macam gejala yang menyusahkan manusia. Akan berlaku krisis, tuduh-menuduh, kata-mengatai, keributan, keselamatan terancam, ekonomi terancam, kejahatan berleluasa, pencurian, pembunuhan dan sebagainya. Manusia menjadi cemas dan takut, hidup menderita.

Perpecahan sesungguhnya bukan bermula dari masalah lahiriah seperti ekonomi, politik, warna kulit, kebudayaan dan lain-lain. Lebih jauh dari itu, perpecahan adalah karena bisikan syaitan dan utamanya nafsu yang liar tidak terdidik. Nafsu yang tidak pernah puas dan penuh mazmumah (sifat tercela) seperti hasad dengki, buruk sangka, sombong, riya', ujub, khianat, cari nama, glamor, pemarah, tamak dan sebagainya Dalam kisah Nabi Yusuf AS. di Al Quran disebutkan:

"Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku." [Yusuf: 53]

Begitu pula dengan perpaduan. Perpaduan bukan perkara lahiriah, bukan berdasarkan persamaan bahasa, adat, budaya, ekonomi, warna kulit. Para intelektual, negarawan, ahli politik telah mengutarakan berbagai formula untuk mencapai perpaduan. Tetapi hasilnya bukan hanya tidak tepat, bahkan boleh jadi justru semakin memperburuk keadaan. Itulah fenomena yang kita jumpai saat ini. Perpaduan yang sebenarnya adalah ikatan hati, yaitu hati-hati yang disatukan oleh ALLAH. Karena itulah perpaduan tidak akan tercapai jika hanya bersandar kepada akal dan material semata. Al Quran telah mengajarkan kepada kita:

"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi ALLAH telah mempersatukan hati mereka. “ (Al Anfaal: 63)

Dalam ayat lain Tuhan berfirman:

"Dan perpeganglah kamu semuanya dengan tali ALLAH dan janganlah kamu bercerai-berai." (Ali Imran: 103)

Dari ayat tersebut dapat kita simpulkan, kita diperintahkan untuk bersatu-padu melalui tali ALLAH dan kita dilarang untuk berpecah-belah. Tali ALLAH bukan sebatas syariat ALLAH yang lahir saja, tetapi yang dilandasi oleh rasa cinta dan takut kepada ALLAH sehingga hati-hati tersebut sudah tertambat pada satu ikatan yang sama yaitu kepada ALLAH SWT, Jika hati-hati manusia sudah terikat pada satu ikatan yang sama kepada Tuhan maka secara otomatis hati-hati mereka akan bersatu padu dan berkasih sayang. Cinta kepada Sang Pencipta tentu saja berarti cinta juga kepada ciptaanNya.

Demikan juga sebaliknya, ALLAH melarang kita untuk berpecah-belah. Jika kita coba tinjau sedikit dari ilmu syariat maka dapat dikatakan hukum berpecah-belah adalah haram. Dalam ilmu fiqh terdapat kaidah yang menyatakan bahwa jalan-jalan menuju ke sesuatu tujuan dihukumi menurut tujuannya. Jika tujuan itu hukumnya wajib/fardhu maka jalan-jalan untuk mencapainya adalah wajib. Jika shalat itu wajib, sedangkan salah satu syarat sah shalat adalah menutup aurat, maka usaha untuk menyediakan penutup aurat, misalnya kain, baju atau sarung adalah wajib hukumnya. Begitu juga misalnya dengan usaha untuk menyediakan air wudhu yang suci dan menyucikan yaitu air yang mengalir atau air mutlak yaitu volumenya minimal dua qullah (±250 liter). Dengan kaidah tersebut maka jika suatu perkara adalah haram, maka setiap jalan menuju ke perkara tersebut adalah haram. Berkaitan dengan ayat di atas maka jika berpecah-belah adalah haram maka setiap jalan menuju perpecahan itu adalah haram dan pengamalnya berdosa. Dapatlah kita jadikan ayat tersebut sebagai rambu-rambu dalam kita bertindak dan bersikap di dalam kehidupan kita.

Demikianlah hakikat perpaduan yang sebenarnya. Oleh karena itu maka iman, perpaduan dan kasih sayang tidak dapat dipisahkan. Dari ketiga hal tersebut akan muncul kekuatan yang luar biasa untuk mencapai kejayaan dunia akhirat. Itulah rahasia kejayaan Islam sebagaimana yang telah tercatat dalam sejarah. Karena Islam tidak hanya selamat namun justru juga menyelamatkan.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer