Macam-macam pujian berdasarkan pemberi dan penerimanya

Pujian dapat dibagi-bagi berdasarkan pemberi dan penerimanya

1. Puji Allah pada diri-Nya sendiri

Tuhan memuji diri-Nya. Ini banyak terdapat dalam Al Quran dan Hadis. Contohnya:

"Aku Tuhan, sembahlah Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku. Aku adalah Qahhar, Aku Jabbar. Aku Pengasih dan Penyayang."

Dia memuji diri-Nya. Ada Hadis mengatakan:

"Aku kasih kepada hamba-Ku, lebih dari seorang ibu mengasihi anaknya."

Apakah hujah untuk membenarkan Tuhan memuji diri-Nya? Hujahnya ialah karena Tuhan itu memang layak. Lagipun mana ada yang lebih atas dari Tuhan. Kalau Dia hendak puji diri-Nya, siapa hendak hukum Dia. Kalau kita hendak puji diri sendiri, nanti ada yang lebih atas yang akan tegur sebab ada orang yang lebih layak. Kalau Tuhan puji diri-Nya, Dia pun memang tidak ada tandingan.

Sebab itu ada amalan-amalan khusus karena kita tidak mampu untuk puji Tuhan maka kita berkata:

"Aku puji Engkau Tuhan, sebanyak mana Engkau puji diri Engkau sendiri. Anggaplah ini juga pujianku untuk-Mu."

Ini termasuk rahmat Tuhan. Ini cara shortcut sebab kita memang tidak sanggup hendak puji Tuhan.

2. Pujian Tuhan pada hamba-Nya

Contohnya:

  • "Aku suka pada orang yang bertaubat."
  • "Aku suka orang yang bertaqwa."
  • "Aku suka orang yang pemurah."
  • "Aku suka pada seorang yang buat dosa dan kemudian bertaubat atas dosanya."
  • "Aku lebih suka pada orang yang merintih atas dosanya daripada tasbih para auliya."

3. Pujian seorang hamba pada Tuhannya

Ini sangat wajar terjadi.

4. Puji seorang hamba kepada hamba lainnya

Contohnya A berkata, "B ini pandai dan sabar."
Sebaiknya memuji di belakangnya, takut dia tidak tahan hingga merusakkan hatinya. Puji di depan itu ibarat meletakkan kayu gelondongan di bahu orang yang dipuji. Apakah ada orang yang mampu memikul kayu gelondongan 10 ton di atas bahunya?

Pujian itu dibolehkan karena hakikatnya dia puji Tuhan. (Barangsiapa yang tidak bersyukur pada manusia, hakikatnya dia tidak bersyukur pada Tuhan.) Kalau kita puji manusia, hakikatnya kita puji Tuhan. Sebab orang itu dapat nikmat dari Tuhan. Nikmat itu bukan hakiki.

5. Pujian seseorang atas dirinya sendiri

Itu tidak boleh kecuali atas dasar hendak sebut nikmat Tuhan yang ada pada dirinya. Tetapi itu mesti berhati-hati. Takut berbunga di dalam hati.
Contohnya, nabi-nabi terpaksa puji dirinya. Macam Rasulullah berkata, "Saya adalah seorang yang paling takut dengan Tuhan."
Kalau Rasulullah tidak sebut, umat akan terkeliru. Jangan ada orang yang anggap, ada orang yang lebih takut pada Tuhan daripada Rasul. Dia ceritakan nikmat Tuhan pada dirinya bukan karena megah.

Rasulullah mengatakan, "Saya adalah orang yang paling fasih menyebut (huruf) dhad." Sebab menyebut huruf dhad itu susah. Memuji diri itu tidak digalakkan kecuali atas dasar hendak sebut nikmat Tuhan sepertimana yang dilakukan oleh Rasul setelah diilhamkan.

 

Referensi: http://kawansejati.ee.itb.ac.id/a-03-segala-puji-bagi-tuhan-pentadbir-alam#PEMBAHAGIANPUJIAN

 

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer