Kisah Seorang Ibu Yang Bertawaf

Di antara keramaian orang yang bertawaf mengelilingi Ka’bah, ada seorang wanita yang kelihatannya tidak beristirahat sedetik pun berjalan mengelilingi rumah suci itu. Jalannya tunduk dan perlahan, wajahnya tenang dan aman, mulutnya tidak henti- henti menyebut ALLAH.

Ada seorang lelaki yang memperhatikan keadaan wanita itu. Karena kagum dengan sikapnya, lelaki itu pun memberanikan diri untuk bertanya, “Maafkan saya, karena ingin bertanya sesuatu”. Karena khusuknya wanita itu terperanjat dengan teguran dan berhenti, kemudian memperhatikan orang yang bertanya tersebut.

“Apa sebabnya Ibu tidak letih melakukan tawaf? Ibu juga khusuk sekali. Wajah Ibu pun menggambarkan ketenangan yang luar biasa.” Karena melihat kesungguhan orang itu dalam bertanya, wanita itu pun mendekatinya dan berkata,”Saya sebenarnya seorang yang malang. Saya memiliki suami dan empat orang anak. Tetapi semua telah tiada,dijemput ALLAH kembali kepadaNya. Peristiwa itu terjadi di suatu hari raya korban. Suami saya telah menyembelih kambing untuk korban. Perbuatan menyembelih itu diperhatikan oleh anak saya yang kedua, yang belum begitu mengerti.

“Suatu hari ketika bermain-main dengan adiknya, anak saya telah membaringkan adiknya itu dan menyembelihnya sebagaimana ayahnya menyembelih kambing. Memancar darah adiknya, yang menjerit kesakitan. Dia menjadi takut lalu lari sekuat-kuatnya, meninggalkan adiknya yang hampir mati itu. Suami saya, dalam keaadan kalang kabut mengejar anak yang lari, dengan harapan menyelamatkannya dari tersesat di padang pasir dan dan dimakan serigala. Lama berselang sejak kejadian itu suami saya dan anak saya tidak kembali. Saya yakin keduanya mati di padang pasir yang kering kerontang itu. Namun saya tunggu juga, berdoa semoga mereka pulang.

“Suatu hari karena kegelisahan dan kesedihan yang makin mendalam, saya membiarkan anak saya yang baru merangkak belajar sendiri. Tiba-tiba dia meraih tempat air panas yang mengelegak. Tumpahlah air itu menyiram seluruh badannya. Menjeritlah anak itu hingga akhirnya mati. Saya hampirhampir gila. “Alangkah beratnya ujian yang menimpa. Anak perempuan saya yang sudah menikah, pulang menziarahi adiknya yang meninggal. Karena sedih dan terperanjat melihat badan adiknya yang masak oleh air panas, dia pingsan lalu mati. Alangkah sedihnya. Dimana lagi hati ini akan saya sandarkan? Antara keinginan untuk mati dan hidup itu saya bawa hati saya kesini, mempersembahkan pada ALLAH beban yang terlalu berat yang saya rasakan. Semoga Dia sudi meringankan dan sekarang saya merasa tenang. Hanya ALLAH yang tinggal buat diri saya untuk dicintai dan dirindukan. Akan saya habiskan waktu yang tersisa untuk taat dan berbakti pada ALLAH sematamata. Insyaallah.

“Akuilah saudara bahwa ujian hidup itu bermacam-macam bentuknya dan datang tanpa diundang. Kalau tidak ada iman manusia pasti karam serta mati lemas didalamnya.Wanita itu kemudian pergi meneruskan ibadahnya , meninggalkan lelaki itu menyapu air mata kesedihan.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer