KENALILAH SIFAT SOMBONG ( BAGIAN 2 TAMAT )

Walaupun SEBAB TIDAK MENGHASILKAN AKIBAT, tetapi kita wajib berusaha karena usaha adalah perintah ALLAH. Walaupun menjadi pandai bukan karena belajar tetapi kita wajib belajar karena Rasulullah perintahkan kita untuk belajar. “Menuintut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Walaupun bukan usaha dan kerja kita yang akan mendatangkan rejeki, tetapi bekerja itu wajib dilakukan karena ALLAH SWT memerintahkan untuk berusaha dan bekerja. “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia ALLAH dan ingatlah ALLAH banyak-banyak supaya kamu beruntung” (Al Jumuah: 10). Inilah kerusakan aqidah di jaman ini, yaitu karena kita telah ber’itiqad bahwa sebablah yang menjadikan Demikian pula kita menjadi orang yang tidak sombong lagi tawadhu’ adalah bukan karena kita berusaha untuk menjauhi sifat sombong tetapi karena ijin ALLAH SWT. Namun, KITA WAJIB BERUSAHA MENGELAKKAN DIRI DARI SIFAT SOMBONG KARENA ALLAH PERINTAHKAN KITA UNTUK TIDAK SOMBONG. Kita perlu mengusahakan sebab-sebab yang membawa kita terhindar dari sifat sombong yang dimurkai ALLAH. Di antaranya adalah:

1. Gunakan pikiran untuk memikirkan nasib orang yang sombong. Iblis tercampak ke neraka walaupun dia ketua segala malaikat. Sanggupkah kita menanggung dasyatnya azab neraka? Sedangkan dijemur di bawah terik mentari tanpa busana selama sejam saja kita sudah tak sanggup. Padahal azab neraka berkali-kali lebih dahsyat daripada hanya dijemur di bawah terik mentari.

2. Pikirkan juga bahwa ALLAH dapat mendatangkan berbagai penyakit kepada kita. Sepandai apapun, kalau ALLAH sakitkan, apa yang masih bisa kita lakukan? Mestinya kita takut dengan ALLAH yang bisa mencabut berbagai kenikmatan yang kita nikmati saat ini dalam sekejap mata.

3. Pikirkan pula asal kita yang berasal dari setetes mani. Ianya adalah barang yang hina. Maka sudah sepatutnya kita menghinakan diri kita. Senantiasalah kita merasa diri hina sehingga kita bisa bermurah hati kepada manusia. Hiburlah manusia sebagaimana kita suka dihibur.

4. Secara fitrah kita menerima dan suka bila disebut sebagai hamba ALLAH dan kita benci bila disebut sebagai hamba wanita, hamba harta, hamba jabatan. Karena kita hamba maka bayangkanlah kita adalah seorang pembantu di sebuah orang yang kaya raya. Si tuan rumah itu kita tahu bahwa dia sangat pemurah dan sangat sayang kepada pembantu-pembantu yang baik-baik. Patuh pada peraturannya. Namun, dia juga sangat pemarah, mudah tersinggung apabila kita lalai dan bermalas-malasan. Tentunya kita akan bekerja sebaik-baiknya dan menjauhi sifat malas dan lalai dalam bekerja. Selain itu kita kita juga tidak akan sombong. Apa yang mau kita sombongkan? Kita Cuma pembantu. Kalau kita sombong tentunya pembantu-pembantu lainnya akan merasa tidak suka lebih-lebih lagi si empunya rumah. Dia pasti akan benci dengan pembantunya yang sombong.

5. Banyak-banyaklah membaca sholawat kepada Rasulullah SAW karena sholawat ini akan melembutkan hati kita. Kita juga akan senantiasa terkenang bagaimana tawadhu’nya Rasulullah padahal beliau adalah semulia-mulia manusia.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer