Kenalilah Sifat Sombong ( Bagian 1 )

Ketika seseorang itu banyak ilmu dan lebih dari orang lain baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, dikaruniai wajah yang cantik atau tampan, mempunyai pangkat dan jabatan, memiliki kekayaan, maka rasa tinggi diri, sombong, angkuh, dan takabur mudah sekali hinggap pada dirinya. Sadar tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja. Mengapa? Karena, apabila seorang itu merasa mampu, mempunyai keahlian, dan merasa lebih dari orang lain maka lenyaplah rasa kekurangan, kelemahan dan kehambaan pada ALLAH SWT dari hati nuraninya.

Ketika seorang tahu bahwa dia istimewa, maka dia pun akan mengatur hidupnya sebagai orang istimewa dan akan berusaha menjaga statusnya. Dia pun tidak akan rela bila ada orang menghinakannya. Timbullah rasa diri istimewa dan memandang rendah orang lain.

Di Institut yang katanya tersohor di Indonesia ini, rasa diri istimewa ini banyak menimpa baik para dosen maupun mahasiswanya. Kehebatan, prestasi, dan kepandaian yang ada pada kebanyakan mahasiswa dan dosen diakui sebagai hasil kerja keras dan usaha tanpa dihubungkaitkan dengan Tuhan. Perhatikan ungkapan yang sering kita dengar: “Alhamdulillah, karena saya kemarin berusaha sungguh-sungguh saya bisa mendapatkan nilai A”. Di sini kita telah merasa berserikat dengan Tuhan (syirik kecil). Padahal bukan usaha kita yang sebenarnya memberikan hasil tetapi ALLAH-lah yang mengijinkan kita mendapat A. Namun, Maha Baik Tuhan yang tidak menyusahkan hambaNya, dengan menjadikan kehidupan ini bersistem. Ia telah menjadikan segala sesuatunya dengan bersebab. FirmanNya: “Kami datangkan bagi setiap sesuatu dengan adanya sebab” (Al Kahfi: 84). Namun, perlu digarisbawahi bahwa bukan sebab yang menjadikan sesuatu tetapi ALLAH! ARTINYA BUKAN USAHA KITA YANG MENGHASILKAN NILAI A. Dalam contoh yang lain: bukan api yang menghasilkan kebakaran tapi ALLAH (ALLAH ijinkan api sebagai sebab kebakaran), bukan pertemuan sel telur dan sperma yang menyebabkan terjadinya janin tapi ALLAH (ALLAH ijinkan sebab itu menghasilkan janin). Supaya manusia tidak salah dalam i’tiqad (bisa terjerumus ke dalam syirik), ALLAH tunjukkan peristiwa dimana SEBAB TIDAK MENGHASILKAN AKIBAT seperti: api tak membakar Nabi Ibrahim, Nabi Isa dilahirkan tanpa ayah, Maryam mendapat makanan tanpa berusaha dan bekerja (makanan turun dari langit)

Bila demikian hakikatnya (kepandaian, kehebatan, dan prestasi kita bukan karena usaha kita), masihkah ada rasa istimewa yang bersemayam dalam diri kita? Kalau masih ada rasa istimewa, sombong dan takabur takutlah pada peringatan ALLAH dalam hadits Qudsi berikut: ”Sombong itu selendangKu. Siapa yang memakai selendangKu niscaya dia tidak akan mencium bau surga”

Adakah kita termasuk dalam daftar orang yang tidak akan mencium bau surga? Lihat apakah sifat berikut ada atau tidak dalam diri kita:
Memandang rendah pada orang lain, terutama yang dianggap kurang darinya. Menghina, mempermalukan, marah, mengamuk, mencerca, meninggikan suara, bermuka masam, atau memelototkan mata kepada orang yang dipandang rendah tadi bila didapati ia melakukan kesalahan.
Pendapat orang walaupun benar tidak akan diterima.
Dalam forum dia akan memborong seluruh perbincangan, orang lain jangan diberi kesempatan
Dia tidak suka mengunjungi orang tetap meminta orang mengunjunginya. Berjalan dengan gaya angkuh dan bangga.
Dia tidak duduk bersama orang yang dipandang rendah. Dia mencari orang yang dirasa setaraf atau lebih dari dia.
Dia ingin kemajuan dan kebenaran dari dia.
Dia tidak mau mengakui hasil usaha orang lain. Tenggang rasa, kerjasama, tolong-menolong, dan hormatmenghormati tidak ada padanya.

Itulah sombong! Perangai Iblis, akhlaq terkutuk! Siapa memilikinya, nerakalah tempatnya. Lantas, bagaimana kita bisa selamat dari sifat sombong ini kawan?

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer