12 Jadilah Rahmat Bagi Masyarakat






Untitled Document



Ramadhan telah meninggalkan kita. Syawal bukanlah untuk bersuka ria. Tapi semoga dapat dijadikan sebagai waktu untuk post mortem, introspeksi diri apakah ramadhan telah kita lalui seperti yang Allah kehendaki. Keberhasilan puasa bukanlah diukur dengan lengkap tidaknya hitungan hari kita berpuasa dalam sebulan, bukan juga dengan hitungan juz atau bahkan berapa kali khatam Quran atau berapa rakaat sholat tarawih yang kita kerjakan. Allah menginginkan manusia menjadi manusia yang bertaqwa dengan jalan melaksanakan ibadah-ibadah selama Ramadhan dengan penuh sungguh-sungguh dan khusyu'. Sehingga setelah Ramadhan selesai tentunya para muslimin menjadi pribadi-pribadi bertaqwa yang menggambarkan pribadi para sahabat. Menjadi orang-orang yang berkasih sayang yang menggambarkan kasih sayang Tuhan. Menjadi rahmat bagi alam sekitar dan manusia-manusia lain. Itulah buah orang mukmin berpuasa. Marilah kita renungkan bagaimana Rasulullah SAW, yang disebut Rahmatan lil 'Alamin telah menunjukkan kepada kita untuk kita jadikan teladan, untuk dapat mengukur diri kita, untuk dapat memotivasi kita agar pribadi kita pun dapat menjadi lambang kasih sayang dari Tuhan bagi alam.

Kedatangan Rasul-rasul ke dunia bukanlah untuk menyusahkan manusia, tapi sebaliknya, diutusnya mereka sebenarnya adalah sebagai tanda kasih sayang Tuhan kepada dunia dan seisinya. Terutama Rasulullah SAW. Sangat banyak rahmat yang Tuhan sertakan dengan kedatangan Rasulullah SAW. Ada rahmat yang bersifat lahir, bathin, ada yang bersifat rohaniah dan ada yang bersifat material. Rahmat yang paling besar dari kedatangan Rasulullah SAW bagi alam, manusia dan jin adalah dapat kenal dengan Tuhan. Tanpa Rasulullah tidak mungkin manusia dapat kenal dengan Tuhannya. Bila tidak kenal Tuhan maka tidak mungkin cinta dan takut kepadaNya. Mengenali Tuhan juga adalah obat paling besar untuk penyakit jiwa. Dengan mengenali Tuhan, maka manusia selalu ada harapan, ada ketenangan. Ujian apapun yang datang akan dilalui dengan tenang, karena ia bersandar dan mengharap bantuan Tuhan yang Maha Kuasa.

Sebelum Rasul datang, manusia tahu dan merasa adanya Tuhan. Tetapi tidak tahu Tuhan itu siapa. Datanglah Rasulullah, orang yang kenal betul Tuhan secara detail. Rasul mengenalkan bahwa Allah lah Tuhan manusia. Sebelum itu orang tidak kenal akhirat, tidak tahu malaikat, syurga, neraka, arasy, dan lain-lain. Maka Rasulullah SAW datang untuk mengenalkannya kepada manusia. Itu contoh yang besar-besar yang bersifat ghaib. Sebab itu dikatakan termasuk rukun iman.

Walaupun kedatangan rasulullah membawa rahmat bagi alam termasuk orang-orang kafir, tetapi yang paling beruntung mendapatkan rahmat ini adalah orang yang masuk Islam. Orang yang tidak masuk Islam, tidak dapat rahmat yang sangat besar tersebut, yaitu kenal, cinta dan takutkan Allah, kenal akhirat, tahu malaikat, syurga, neraka, arasy. Mereka hanya dapat rahmat sampingan saja. Yaitu rahmat yang terjadi di dunia. Begitulah kasih sayang Tuhan, rahmat yang terjadi di dunia, walau orang tidak masuk Islampun, Tuhan beri juga. Orang yang tidak melihat besarnya akhirat, maka nikmat dunia itu besarlah padanya. Tapi bagi orang yang beriman, rahmat dunia itu kecil saja baginya. Yang besar itu rahmat akhirat, sebab kalau nikmat di sana kekal abadi dan kalau azabpun kekal abadi. Walaupun orang Islam ada yang masuk neraka dulu terus ke syurga, tidak kekal abadi di neraka, tapi seolah-olah macam kekal. Sebab berjuta-juta tahun lamanya.

Jadi rahmat di dunia ini binatang pun dapat, pohon-pohonan pun dapat apalagilah manusia. Mengapa? Sebab syariat Allah yang disampaikan pada Rasulullah SAW, bila dipraktekkan semua orang terima. Semua orang akan merasa keindahan dan kecantikannya. Seperti pemurah, kasih sayang, tidak boleh menzalimi orang. Bukan saja tidak boleh zalim dengan orang Islam, bahkan dengan orang bukan Islam pun tidak boleh zalim. Binatangpun tidak boleh dizalimi. Bila kita mau menyembelih binatang harus menggunakan pisau paling tajam. Begitu hebat disiplinnya. Bahkan pada anjing yg sangat hinapun Rasul menyuruh kita berbuat baik. Hadist ada menceritakan bahwa ada orang masuk syurga karena dia memberi minum anjing yang kehausan.

Setiap orang ada hak masing-masing. Baik itu hak pribadi, agama, hak harta, hak keluarga, hak kebebasan. Itu semua bukan hanya untuk orang Islam saja. Tetangga mesti dihormati sekalipun musuh kita. Kasih sayang, perpaduan harus dijaga. Tapi itulah masalah dunia sekarang ini. Kasih sayang tiada, perpaduan telah punah. Padahal Rasulullah SAW datang bukan hanya dengan teori, tapi beliau sendiri menunjukkan bagaimana mewujudkan kasih sayang, bagaimana berhubung baik dengan tetangga, berhubungan dengan musuh, membalas kejahatan orang kepadanya dengan kebaikan. Bahkan bila musuh sakit, Rasulullah SAW menziarahinya. Musuh yang menganiayanya dibalas dengan kebaikan, bahkan didoakan keselamatannya.

Haram hukumnya bila pohon yang tidak bernyawapun di potong-potong, ditarik daunnya untuk dirusakkan. Apalagilah binatang dan manusia. Umat Islam bahkan dianjurkan untuk berhubungan baik dengan masyarakat sekalipun orang bukan Islam. Umat Islam tidak dibenarkan memerangi musuh kecuali musuh yang memulai. Begitulah cantiknya ajaran Islam, tapi sayangnya umat Islam sudah tidak mempraktekannya. Akhirnya Islam jadi terlihat tidak cantik. Orang Islam dituduh kasar, militan, suka membunuh orang.

Jihad sudah disalah artikan. Jihad diartikan mesti bunuh orang. Padahal Rasulullah SAW datang ke dunia mau mengislamkan orang. Tapi kita, mau bunuh orang. Seolah kedatangan Islam yang kita paham itu berlainan dengan yang Rasulullah SAW ajarkan dan sampaikan. Kita bunuh orang tanpa memikirkan apakah dia akan mati dalam kafir atau beriman. Itu paling kejam. Jihad akhirnya sudah jadi jahat. Yang terbunuh kekal abadi di dalam nereka karena kita. Padahal Rasulullah SAW datang ke dunia mau mengislamkan orang. Kadang-kadang waktu Rasulullah SAW mengajak orang pada Tuhan, lalu orang itu bertindak kejam pada baginda, sebenarnya waktu itu Rasulullah SAW dibolehkan dan mempunyai kekuatan untuk membalas. Tetapi Rasulullah SAW tidak membalas sebab membalas itu mubah saja. Bahkan pada orang yang melempar batu sehingga keluar darah dari badan Rasulullah, orang yang melempar najis pada baginda, beliau berkata : tidak mengapa engkau buat begitu, aku hanya mau mengajak engkau masuk Islam.

Rasulullah SAW berkata : Kalau ia tidak masuk islam dan aku tidak bunuh dia, aku harap zuriat atau keturunannya ada yang akan masuk islam. Kalau aku bunuh dia sekarang habislah peluangnya untuk mendapat keturunan. Aku tunggu zuriatnya. Bila anaknya tidak juga masuk Islam, semoga cucunya masuk Islam. Bila cucunya tidak juga, semoga cicitnya masuk Islam. Begitulah pengasihnya Rasulullah SAW yang senantiasa menaruh harapan pada orang kafir.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW memandang jauh ke depan. Itulah yang dikatakan rahmat. Kalau tetangga kita tidak makan, walaupun dia bukan Islam, dia lapar, sudahkah kita memikirkannya, sudahkah kita peduli pada mereka? Sudahkah kita ikuti teladan Rsulullah SAW dengan menjadi rahmat bagi mereka?

Diakhir solat kita dituntun untuk memberi salam ke kiri dan ke kanan. Memberi salam pada seluruh makhluk yang ada di sebelah kanan dan sebelah kiri kita. Artinya kita mendoakan seluruh makhluk yang ada di sebelah kanan kita dan seluruh makhluk yang ada di sebelah kiri kita. Sebenarnya kalaulah solat dihayati, tentu bukan saja dalam bentuk doa kita minta keselamatan bagi manusia dan makhluk Tuhan lainnya, tetapi setelah sholat, ketika kita bergelanggang di tengah masyarakat kita akan berusaha mencari jalan bagaimana agar keselamatan tersebut dapat wujud pada diri setiap makhluk Tuhan.

Walau begitu banyak kekurangan kita dalam menjalani ramadhan yang telah lalu, semoga Allah masih memberi peluang bagi kita untuk menebusnya dengan berbuat sebanyak-banyak kebaikan.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer