10 Mari Kembalikan Peranan Masjid






Untitled Document



Mari Kembalikan Peranan Masjid

Bila kita kaji sejarah bagaimana peranan masjid di zaman Rasulullah dan salafussaleh (300 tahun selepas Rasulullah), kita akan nampak betapa mesjid telah mengambil peranan dan memberi jasa yang sangat besar pada pembangunan masyarakat madani. Peranan masjid di waktu itu sangat murni sehingga siapa saja yang menjadi imam masjid (karena kelayakan ilmu dan ketaqwaannya) kalau ada raja pun di waktu itu orang tetap menghormati imam. Orang hormat dengan raja karena takut tetapi mereka hormat dengan imam dari hati karena wibawa dan ketaqwaannya. Begitulah peranan masjid dan imam di waktu itu.

Peranan masjid yang sebenar dalam Islam adalah bukan sekadar hanya untuk sholat berjamaah dan mengaji Al Qur'an, tetapi mencakup peranan-peranan berikut :

  1. Simbol pentadbiran dan manajemen negara.
  2. Sebuah universitas pusat pembinaan insan
  3. Gudang ilmu
  4. Parlemen untuk negara Islam
  5. Sumber berita dan informasi yang akan disampaikan ke seluruh negara.
  6. Lambang ibadah.
  7. Tempat suluk
  8. Asas perpaduan ummah.

Karena begitu besarnya peranan masjid dalam pembinaan masyarakat dan negara di waktu itu, maka ketika membangun masjid dicari sumber yang paling bersih. Sumber yang haram atau makruh akan mencemari secara rohaniah masjid itu sehingga kurang dapat membina dan mengubah hati manusia. Karena itu para pemimpin masyarakat di waktu itu memastikan kehalalan dan keberkatan sumber-sumber pembangunannya. Tidak dibenarkan membangunkan masjid dari sumber-sumber yang makruh apalagi haram.

Karena waktu itu peranan masjid sangat besar dalam kehidupan umat Islam khususnya dalam mendidik masyarakat, maka imam yang dipilih bukan sebarang imam. Guru yang mengajar bukan sebarang guru. Ketika Saidina Ali bin Abu Thalib yang menjadi khalifah masuk ke sebuah masjid besar, waktu itu masjid masih menjadi gudang ilmu, di lihat disetiap sudut ada kelompok-kelompok pengajian. Guru-guru yang mengajar di waktu itu adalah tokoh-tokoh besar di zamannya. Saidina Ali bertanya untuk menguji setiap ulama atau guru yang mengajar di masjid itu. Banyak yang tidak dapat menjawab pertanyaan Saidina Ali itu. Padahal pertanyaannya mudah saja, "apa yg merosakkan manusia." Maka beliau sebagai khalifah, orang yang paling bertanggung jawab dalam mendidik masyarakat, berkata 'engkau tidak layak untuk mengajar'.

Di salah satu sudut masjid dia lihat seorang anak berusia 12 tahun yang sedang mengajar. Padahal yang sanggup mengajar di masjid waktu itu bukan sembarang orang. Sebagai guru, tempat duduk dia lebih tinggi dari murid-muridnya yang duduk di lantai beralaskan karpet. Bukan sekadar untuk menghormati guru tetpi juga untuk memuliakan ilmu. Murid-murid yang mendengar kuliah anak itu sudah tua-tua. Saidina Ali terkejut melihat anak kecil itu lalu berkata : "Saya ingin bertanya 1 pertanyaan, kalau engkau dapat menjawabnya, engkau boleh terus mengajar, kalau tidak engkau tidak layak untuk mengajar di masjid ini. Pertanyaan saya adalah apa yang merusakkan manusia?". Anak kecil itu menjawab, "yang merusakkan manusia ialah karena cintakan dunia". Saidina Ali terkejut mendengar jawaban itu karena jawaban itu betul, cinta dunia merupakan ibu kejahatan.

Rupanya anak yang berusia 12 tahun itu ialah Hassan Basri seorang yg menjadi tokoh besar akhirnya. Bahkan dia salah seorang imam mazhab, tetapi hari ini ajarannya sudah hilang banyak dan dilupakan orang. Kalau kita sebut Hassan Basri semua orang kenallah, umur 12 tahun sudah dikagumi orang, sudah mengajar. Diantara orang yang mendengar kuliahnya adalah sahabat Rasulullah SAW.

Peristiwa ini untuk menggambarkan peranan masjid yang sebenarnya dalam Islam. Masjid merupakan sumber segala kebaikan. Untuk mengkader dan melahirkan pemimpin di didik di masjid, untuk menjadi pejuang dibina di masjid. Tetapi setelah dunia Islam rusak, lebih-lebih lagi setelah kejatuhan empayar Islam, umat Islam dijajah pula, selepas itu merdeka setelah 700 tahun rusak, maka peranan masjid sudah tidak ada, sekadar tempat shalat dan belajar membaca Al qur'an saja. Orang politik sudah campur tangan, imam dilantik mengikut kehendak dan kepentingan orang politik bukan kehendak Islam. Membangun masjid tidak memikirkan apakah duit itu halal atau haram. Untuk menjaga dan mengurus masjid tidak fikir apakah mereka orang bertaqwa atau tidak, yang penting orang aku.

Peranan masjid dikecilkan, dia bukan lagi merupakan universitas kehidupan tempat pengajaran yang sistematik, tetapi sekadar tempat mengajar fardhu ain dan Qur'an supaya jangan nampak masjid tidak ada peranan. Ada orang yang tidak solat dan bila datang ke masjid hanya setahun sekali, tetapi diberi peranan yang penting sebagai pengurus masjid sehingga akhirnya dia anggap masjid itu dia yang punya. Kadangkala untuk jawatan tertentu terutama yang ada kaitannya dengan keuangan dan proyek, terjadi rebutan, jatuh menjatuhkan yang merusakkan ukhuwah dan persudaraan. Di masjid sudah tidak ada ketenangan, maka banyak orang akhirnya tidak terdorong untuk pergi ke masjid.

Bila ingin memberi khutbah, mesti merujuk dengan orang politik, di catur. Khutbah yang ada sudah tidak dapat menghidupkan aqal, apalagi ruh, karena mesti ikut selera orang politik. Kalau ada orang baik yang ada cita-cita Islam yang baik mencoba untuk membangunkan Islam di dalam institusi masjid, dia akan gagal, sebab semua kegiatan di masjid dikendalikan oleh pengurus-pengurus masjid yang dipunyai oleh orang politik. Kalau ada orang yang ikhlas, masyarakat rugi sebab tenaga, buah fikiran dan ilmunya tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

Sebab itu di akhir zaman ini, kalau hendak membangunkan Islam jangan bermula di masjid, tetapi berperananlah di pasar, di restoran, di tengah-tengah orang ramai, rapat dengan pemuda-pemudi, kalau boleh buat di hotel-hotel, gedung-gedung besar, bangunan-bangunan besar. Kalau di masjid senantiasa di control. Kalau di luar masjid, orang politik tidak dapat memonitor, ada sedikit kebebasan, baru Islam dapat dibangunkan.

Bila orang-orang sudah sadar di pasar, di hotel, di tengah masyarakat umum, maka kita akan datangkan berbagai cara untuk mengajak mereka lagi kepada Tuhan melalui bermacam-macam bentuk teater, nasyid, sajak, drama, ekonomi, pendidikan, penerbitan dan lain lain. Bila masyarakat sudah sadar, sudah berubah, maka kita akan buat program-program membangunkan kembali masjid, sehingga masjid dapat kembali menjadi benteng pertahanan Islam dan umat dalam menghadapi sistem dan cara hidup yang tidak Islami. Masjid akan menjadi sumber kebaikan dalam masyarakat.

Sekarang ini seolah-olah benteng besar kita sudah ditawan orang selama 700 thn. Untuk merebutnya kembali kita mulakan gerakan kita dari tengah masyarakat, di pasar, di hotel, di gedung-gedung pertemuan dan sebagainya. Insya Allah satu masa nanti kita akan merebut kembali dan mengembalikan peranan masjid sebagai tempat ibadah, tempat suluk, universitas, gudang ilmu, parlemen, simbol pentadbiran dan manajemen negara, sumber berita dan informasi, asas perpaduan ummah dan sebagainya. Masjid itulah dunia dan akhirat. Masjid akan kembali menjadi pusat pendidikan yang menghasilkan orang-orang yang bertaqwa. Sebab itu Rasulullah bersabda : jadikan rumah kamu sebagai masjid. Maksudnya jadikan rumah kita sebagai tempat memproses orang-orang untuk menjadi insan bertaqwa.

Imam di zaman Solafus soleh ialah imam dan pemimpin untuk urusan dunia dan akhirat, bukan saja menjadi imam dalam sembahyang tetapi imam tempat masyarakat merujuk semua hal, artinya dia juga ketua kampung atau ketua masyarakat dalam seluruh aspek kehidupan. Hari ini kadang-kadang ketua kampung tidak sama dengan imam, dia bertengkar dulu siapa yang akan dia lantik sebagai imam. Di zaman salafus saleh, orang bertanya kepada Imam bukan hanya soal halal-haram, bahkan kalau suami isteri bertengkar, ingin menikah, memberi nama kepada bayi yang baru lahir mereka juga bertanya kepada imam. Kalau akan kenduri, imam tidak hadir, boleh jadi tidak jadi kenduri.

Bahkan di zaman penjajah dulu, kalau ada masyarakat kampung yang diterima sebagai anggota polisi, pamong praja, guru pegawai bea cukai, maka mereka akan bertanya pandangan dan nasehat imam. Kalau imam kata lebih baik jangan ambil peluang pekerjaan itu, maka mereka akan tinggalkan dan cari peluang kerja yang lain. Sebelum berangkat mereka meminta restu dari imam. Kalau kebetulan mereka pulang kampung bercuti maka sebelum bersilaturrahmi ke rumah keluarga-keluarga yang lain mereka akan datang ke rumah imam dahulu.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer