03 Ibadah Jangan Kerana Fadhilat






Untitled Document



Salah Faham Tentang Makna Jahil

Dalam dua buah hadis Rasulullah SAW pernah bersabda yang maksudnya :

Akan ada satu zaman di mana para ulamanya fasik dan para ahli ibadahnya jahil.
Amal tanpa ilmu akan tertolak

Kita akan fokus pada sabda Rasulullah SAW tentang amal tanpa ilmu akan tertolak dan ahli ibadah yang jahil.

Memang benar orang yang beramal dengan jahil, tanpa ilmu atau tanpa bersungguh-sungguh mengusahakan ilmu khususnya ilmu-ilmu fardhu 'ain, maka amalannya akan tertolak. Banyak orang yang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan jahil di sini adalah jahil dari sudut ilmu fikih atau syariat saja. Misalnya orang yang mengerjakan sholat tidak faham tata cara taharah, berwudu, gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan sholat dan lain-lain. Orang yang berpuasa tidak faham ilmu tentang puasa, rukun sah batalnya dan sunat puasa. Atau orang yang berhaji tidak faham rukun, wajib dan sunat haji. Sehingga yang mereka anggap orang-orang jahil itu adalah orang-orang awam dalam Islam yang tidak pernah belajar Islam di pesantren atau sekolah-sekolah Islam. Ulama, sarjana lulusan universitas Islam atau orang-orang yang belajar ilmu-ilmu Islam di pesantren mereka anggap tidak jahil dan tidak termasuk ke dalam kelompok ahli ibadah yang jahil.

Memang jahil dari sudut ilmu fikih adalah satu kesalahan yang tidak dibolehkan dalam Islam. Tetapi ada satu bentuk kejahilan yang lebih berbahaya dari jahil dari sudut ilmu fikih ini yaitu jahil tidak kenal Tuhan. Dosa jahil tidak kenal Tuhan ini lebih besar dari pada dosa tidak mengerjakan sholat. Jahil inilah yang banyak menimpa umat Islam termasuk para ulama, cendikiawan dan sarjana lulusan universitas-universitas Islam.

Kenal Tuhan tidak sama dengan percaya pada Tuhan. Hari ini kalau kita tanya pada orang kafir sekalipun, apakah mereka tahu dan percaya adanya Tuhan, tentu mereka akan menjawab kami tahu dan percaya Tuhan. Tetapi sebenarnya mereka tidak kenal Tuhan, tidak merasakan peranan Tuhan di dalam kehidupan seolah-olah Tuhan sudah tidak ada dalam kehidupan mereka. Pada perasaan mereka sama saja apakah Tuhan ada ataupun tidak ada.

Tuhan itu Maha Berkuasa, Menghidupkan, Mematikan, Menghukum, Mendengar, Melihat, Maha Besar, Maha Agung, Penyelamat, Penjaga, Pelindung, yang memberikan nikmat, yang menurunkan rahmat, dan memberikan nikmah, yang mewujudkan apa saja di dunia ini maupun di akhirat. Tidak ada satu butir debu pun yang wujud tanpa sepengetahuan Tuhan. Besarnya Kuasa Tuhan itu, bila Dia berkata jadi maka jadilah, Tuhan berkata wujud maka wujudlah, Tuhan berkata hidup maka hiduplah, Tuhan berkata mati maka matilah, Tuhan berkata sehat maka sehatlah, Tuhan berkata sakit maka sakitlah.

Itulah Dia Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan menciptakan manusia. Tidak cinta dan takut kah manusia dengan Tuhannya ? Padahal baru sedikit kita melihat sifat-sifat yang ada pada Tuhan. Kalau manusia ini hatinya sudah merasakan kehebatan Tuhan, barulah datang cinta dan takut pada Tuhan, barulah datang berbagai rasa bertuhan yang lain seperti rasa dilihat, diawasi, terasa kebesaran, keagungan dan kasih sayang Tuhan. Bila orang kenal Tuhan barulah jiwanya hidup semula. Bila dia akan berbuat hal yang terkecil sekalipun dia akan berpikir dan bertanya pada Tuhan, apakah Tuhan suka atau tidak. Inilah obat pertama kepada manusia. Inilah obat pertama kepada penyakit-penyakit yang dicetuskan oleh manusia di dunia ini.

Sekarang, umat Islam maupun bukan Islam, sudah tidak kenal Tuhan. Sekalipun percaya Tuhan, tapi Tuhan sudah hilang di hatinya. Orang yang tidak kenal Tuhan bukan saja di kalangan orang yang tidak ikut syariat, bahkan orang yang shalat pun tidak kenal Tuhan. Walaupun mereka banyak di mesjid, tapi sebenarnya tidak mencintai Tuhan. Orang yang berhaji, banyak mengerjakan umroh dan ibadah-ibadah lain sudah tidak dikaitkan dengan Tuhan. Sebab itulah tidak lahir kasih sayang, tidak lahir pemurah, kerja sama, bermaaf-maafan. Akhirnya di dalam masjid pun dapat terjadi pertengkaran dan perkelahian karena memperebutkan sesuatu.

Kalau orang yang tidak kenal dan sayang Tuhan itu orang yang tidak ikut syariat, tidak mengerjakan sholat, tidal membayar zakat atau tidak berhaji, masih dapat diterima. Tetapi apa yang terjadi, yang menjadi pembohong, memfitnah, menipu, koruptor adalah di kalangan mereka yang shalat, naik haji, umrah, zakat dan lain-lain. Ibadahnya tidak berbuah. Itulah tandanya ikut Islam tetapi tidak kenal Tuhan. Bukan saja orang politik, bahkan orang yang shalat pun sudah terpisah dengan Tuhan.

Tidak kenal Tuhan adalah satu musibah, kejahilan dan dosa yang besar. Dosa tidak kenal Tuhan lebih besar dari pada dosa tidak mengerjakan sholat. Tidak ada musibah dan kejahilan yang paling besar pada manusia melainkan musibah tidak kenal Tuhan. Karena Rasulullah SAW sudah ingatkan bahwa awal-awal agama adalah mengenal Allah. Kalau kehilangan uang, kuasa dll. itu masalah yang kecil. Tapi bila manusia tidak kenal dan sudah kehilangan Tuhan, cinta Tuhan sudah tiada, maka itu adalah musibah yang besar.

Jadi kalau manusia tidak kenal, tentu tidak cinta dan takut Tuhan, padahal Tuhan itu patut dicintai. Maka otomatis tidak cinta sesama manusia. Mengapa? Atas alasan apa kita dapat mencintai orang lain, sedangkan Tuhan yang sangat berjasa kepada kita, tidak kita cintai. Tidak kenal Tuhan, manusia tidak akan takut pada Tuhan. Akibatnya mereka tidak merasa pengawasan ghaib dari Tuhan sehingga tidak takut untuk membuat maksiat dan kejahatan.

Karena itu bila manusia jahil, tidak kenal, tidak cinta Tuhan, otomatis cinta pada sesama manusia sudah tidak murni. Akibatnya kesan negatifnya terlalu banyak. Tidak berkasih sayang, tidak pemurah, tidak amanah, tidak ada tenggang rasa, tidak ada perikemanusiaan, keadilan dan kerja sama. Kalaupun ada kerjasama bukan karena cinta, tidak ikhlas dan ada kepentingan, mungkin karena ingin keuntungan ataupun untuk menjaga harga diri. Karena itu ikatannya terlalu tipis dan dapat berpecah kapan saja.

Ibadah karena fadhilat adalah Rusak

Sejak 700 tahun terakhir ini, umat Islam sudah tidak dididik dengan dikenalkan kepada Tuhan dahulu. Padahal mereka kononnya ingin ikut Al Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Rasulullah menyebutkan bahwa awal-awal agama adalah mengenal Allah. Inilah yang Rasulullah buat.

Coba baca sejarah Rasulullah, Baginda menggunakan masa selama 13 tahun untuk menanamkan iman dan tauhid, untuk mengenalkan Tuhan yang Esa. Dengan kata lain Tuhan yang Esa itu diperkenalkan terlebih dahulu kepada umat Arab Jahiliah. Sebab Tuhan adalah segala-galanya. Sedangkan syariat yang beribu itu Rasulullah kenalkan kepada umat islam selama 10 tahun setelah memperkenalkan Tuhan dahulu sehingga Tuhan dikenal, dicintai dan ditakuti. Bila kita mengenalkan syariat lebih dahulu, orang menerima Islam tidak secara suka rela tetapi dengan terpaksa, sebab sudah diikat dengan peraturan : ini halal, ini haram dst. Karena syariat dikenalkan lebih dahulu, maka umat Islam membuat hal-hal yang diperintahkan Allah dengan tujuan untuk mendapat pahala atau masuk syurga dan meninggalkan larangan-larangan Allah, karena takut berdosa dan dimasukkan ke dalam neraka. Mereka beramal karena fadhilat.

Sekarang ini kita lihat rata-rata umat Islam walaupun mengerjakan shalat, tapi hatinya masih penuh dengan mazmumah. Pergi haji atau umrah sudah 10 kali tetapi masih berhasad dengki, sombong, ego, pemarah dan lain-lain. Yang wajib itu 1 kali, yang lain sunat. Tetapi kebanyakan umat Islam bangga kalau dapat mengerjakan haji atau umrah berulang kali dengan biaya yang mahal. Padahal uang tersebut dapat digunakan membangunkan berbagai projek kebaikan untuk membina orang-orang miskin dan tidak berharta. Inilah akibatnya bila beribadah karena mengejar fadhilat, untuk mendapat pahala, masuk syurga atau karena takut neraka. Akhirnya ibadah menjadi ideologi, sebab tidak dikaitkan dengan Tuhan. Walau ibadah meriah, masjid penuh, tetapi kebanyakan masyarakat masih jahat, yang beribadah masih jahat dan yang tidak beribadah juga jahat.

Kita mesti membedakan antara orang yang beribadah dengan tujuan mencari fadhilat dengan orang yang beribadah atas dasar ubudiah, mencari redho dan cinta Tuhan. Orang yang beribadah atas dasar ubudiah karena Dzat Allah, walaupun sedikit tetapi sangat berkesan pada hati. Dia akan terdorong untuk membuat perubahan pada hatinya, membuang berbagai sifat mazmumah (jahat) dari dalam hati dan berusaha menyuburkan sifat-sifat baik seperti pemurah, pemaaf, kasih sayang, tawadhu, bertolong bantu dan lain-lain. Dia akan menjaga hubungan hatinya dengan Allah agar tidak cacat. Rabiatul Adawiyah ditanya orang: Kalau engkau dimasukkan Tuhan dalam neraka bagaimana? Beliau menjawab, "Kalau dimasukkan neraka dengan redha Tuhan, tidak mengapa".

Tetapi yang beribadah atas dasar selain itu walaupun banyak, ibadahnya tidak akan memberi kesan pada hati. Misalnya masih pemarah, ego, tidak tenggang rasa, tidak pemaaf, tidak ada kerja sama. Mereka mudah terjebak ke dalam maksiat lahir dan maksiat batin. Sebab itu di hari ini seluruh dunia umat Islam sibuk membangun mesjid, tetapi makin banyak mesjid makin rusak umat Islam. Mesjid jadi tempat berpolitik, tempat mengumpat, tempat berkelahi, tempat membuat fitnah, tempat cari makan, tempat merebut kuasa. Orang yang beribadah karena fadhilat akhirnya rusak dan akan merusakkan orang lain.
Rasulullah pernah menyebut, cukup 2 rakaat shalat sunat tetapi memberi kesan pada hati dari pada ribuan rakaat tapi tidak memberi kesan. Ada orang yang salah faham. Mereka lebih mengutamakan sholat sunat (dan juga wajib) yang banyak walau tidak khusyu' dari pada mengusahakan khusyu'. Mereka anggap kalau 2 rakaat yang khusyu' dapat nilai 20, maka kalau mereka buat 10 rakaat tidak khusyu' tentu akan dapat pahala yang lebih banyak walaupun dengan nilai yang tidak sempurna katalah 60. Sebenarnya mereka sudah kurang ajar dengan Tuhan. Sebab seolah mereka sudah membedakan Tuhan yang mereka sembah ketika sholat sunat dan sholat wajib. Apakah ini perkara kecil?

Berjuang untuk masyarakat lebih utama dari Ibadah sunnat

Di zaman sekarang ini banyak orang salah tafsir tentang pengertian ibadah yang sebenarnya. Banyak di kalangan mereka berpendapat bahwa ibadah itu hanya menghendaki manusia shalat, berpuasa, menunaikan haji, berdoa dan berzikir semata-mata. Apakah hanya itu ruang lingkup pengertian ibadah? Akan terbatas segala syariat Islam sekiranya hanya itu yang meliputi bidang ibadah.

Sebenarnya ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam. Itulah yang kita amalkan dalam hidup kita sehari-hari asalkan tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah. ALLAH menginginkan segala yang kita lakukan dalam hidup menjadi ibadah, yaitu cara kita berpakaian, cara kita mengatur rumah tangga, bentuk perjuangan kita, pergaulan kita, percakapan dan perbincangan kita, semuanya menjadi ibadah, sekalipun kita berdiam diri juga dapat berbentuk ibadah. Di samping itu aspek-aspek lain seperti pendidikan dan pelajaran, perekonomian dan cara-cara menjalankan ekonomi, soal-soal kenegaraan dan perhubungan antar bangsa pun, semua itu dapat menjadi ibadah kita kepada ALLAH. Itulah yang dikatakan ibadah dalam seluruh aspek kehidupan kita baik yang lahir maupun yang batin.

Ibadah yang berkaitan dengan kemasyarakatan ini sebenarnya lebih penting dan besar dari pada ibadah-ibadah sunat, sebab ia berkaitan dengan kepentingan dan keselamatan orang banyak. Ibadah sunat hanya berkaiatan dengan keselamatan diri saja. Itupun kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan dijaga kekhusyukannya.

Sebagai contoh, suatu hari Imam Syafei bertamu dan menginap di rumah Imam Hambali. Imam Hambali cakap dengan anak perempuannya. Kita bertuah dapat tamu orang besar Allah. Hebat Imam Syafei, dia ulama yang juga pemimpin. Tetapi malam itu ketika mereka bangun mengerjakan sholat malam, mereka tidak melihat Imam Syafei bangun mengerjakan sholat malam. Anak perempuan Imam Hambali bertanya kepada ayahnya, "ayah kata Imam Syafei seorang ulama besar, tetapi mengapa ia tidak bangun mengerjakan sembahyang malam". Ayahnya Imam Hambali terpukul dan merasa malu. Orang yang dia kata ulama besar tidak nampak kebesarannya. Dengan penuh beradab dan tawadhu Imam Hambali bertanya kepada Imam Syafei. "Maaf tuan, apakah tuan sedang tidak sehat?" Imam Syafei menjawab, "Alhamdulillah, saya sehat-sehat dan baik-baik saja. Ada apa gerangan?". Imam Hambali melanjutkan, "Maafkan saya bertanya tuan sakit atau tidak sebab anak saya melihat tuan tidak bangun mengerjakan sholat malam". Imam Syafei menjawab, "Saya tidak bangun mengerjakan sholat malam karena memikirkan masalah-masalah umat. Alhamdulillah semalam saya dapat menyelesaikan 100 masalah umat". Dengan penuh malu Imam Hambali berjumpa dengan anaknya dan berkata, "Memang dia ulama besar. Kita beribadah untuk diri kita saja, dia semalam bekerja keras untuk menyelesaikan 1000 masalah umat". Begitulah kebesaran Imam Syafei, dalam keadaan tidur telentang dapat menyelesaikan 100 masalah umat dalam 1 malam.

Ibadah karena fadhilat tidak akan Istiqomah

Islam tidak mengajar umatnya untuk berdoa meminta kewalian tetapi mengajar untuk meminta istiqomah dalam beramal, baik amalan lahir seperti sholat, zakat, puasa, haji, berekonomi, membangun dan lain-lain, maupun amalan batin seperti rasa bertuhan, rasa hamba, tawadhu, kasih sayang dan sebagainya. Sebab wali tidak dibenarkan untuk diminta, itu anugerah dari Allah kepada hamba-hambaNya yang sungguh-sungguh mengusahakan taqwa. Tetapi istiqomah itu wajib dan diperintahkan untuk diminta dan diusahakan.

Bukan mudah untuk istiqomah dalam beramal. Untuk istiqomah mengerjakan ibadah-ibadah lahirpun sudah sangat sulit, apalagi istiqomah mengerjakan ibadah-ibadah batin. Untuk istiqomah mengekalkan sholat di awal waktu dalam keadaan berjamaah selama 40 hari saja sudah sangat sulit, apalagi mengekalkan khusyu' dalam sholat, rasa bertuhan, merendah diri, cinta Tuhan dan takut Tuhan. Terlalu susah.

Orang yang beribadah karena mengejar fadhilat biasanya terlalu susah untuk istiqomah. Ada gangguan atau perubahan suasana sedikit dia sudah tidak dapat istiqomah, baik dalam ibadah lahir maupun yang batin. Selain itu orang yang beribadah karena fadhilat, karena inginkan syurga, pahala atau karena takutkan neraka, biasanya dia tidak akan kenal, cinta dan takutkan Tuhan. Ibadahnya tidak memberi kesan dan perubahan kepada cara hidupnya sehari-hari. Sebab dia merasa sudah mendapat pahala, mendapatkan syurga dan terhindar dari neraka. Maka masuklah dia ke dalam satu kategori dosa yang dia tidak sadar yaitu dosa rasa selamat, dosa tidak cinta dan tidak takutkan Tuhan.

Orang yang beribadah karena hendak mencari redho Tuhan saja yang akan mudah untuk istiqomah, gigih dan tidak putus asa. Walaupun ibadahnya kecil atau sedikit saja, tetapi karena istiqomah untuk mencari redho Tuhan, maka akan memberi kesan dalam kehidupannya sehari-hari. Allah akan anugerahkan rasa bertuhan dalam hatinya : rasa diawasi Tuhan, rasa hebat Tuhan, cinta, takut, terasa kasih sayang dan pemurahnya Tuhan dan lain-lain. Hasil dari berbagai rasa bertuhan ini akan melahirkan berbagai rasa dan sifat kehambaan dalam diri individu itu seperti tawadhu, pemurah, kasih sayang, sangat mengutamakan orang lain. Jiwanya akan terbangun yang akan mendorong fisikalnya untuk membangunkan berbagai kebaikan bagi masyarakat. Tetapi anehnya semakin sungguh-sungguh dan banyak membuat kebaikan yang bertunjangkan Tuhan tadi, individu tersebut semakin merasa diri jahat, semakin rasa diri hina dan belum membuat kebaikan. Rasa-rasa ini semakin mendorongnya lagi untuk beribadah dan membuat kebaikan dalam masyarakat dengan tujuan mencari redho Tuhan. Meriahlah kebaikan, syiar dan akhlak islam dalam masyarakat.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer