07 Falsafah Undang Undang Dan Peranannya Dalam Membangun Masyarakat Madani 1






Untitled Document



1. Kegagalan Hukum dan Peraturan Buatan Manusia

Disampaikan oleh Dr. Ing. Abdurrahman R Effendi pada Seminar Menyongsong Tahun Baru Hijrah 1424
Di Islamic Center Serang, Banten Indonesia, 6 Maret 2003

Peranan Hukum Dalam Masyarakat

Kalau kita tanya semua orang, semua akan mengatakan bahwa manusia memerlukan hukum dan peraturan. Tidak ada yang akan menolak. Hal ini disetujui oleh akal dan fitrah manusia. Hukum dan peraturan itu ada hubungan dengan keharmonian, keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan manusia. Karena semua manusia memerlukan keharmonian, keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan itu, maka manusia merasa perlu adanya hukum dan peraturan. Semua manusia tanpa mengira bangsa, agama dan negara sepakat bahwa bila ada hukum dan peraturan, maka manusia dapat hidup dengan selamat, aman, damai dan harmoni. Tidak ada kekacauan, setidaknya hukum dan peraturan itu dapat membendung kejahatan dalam masyarakat. Begitulah harapan manusia.

Hukum dan peraturan buatan manusia membawa krisis dalam Masyarakat

Tetapi harapan ini jauh dari kenyataan. Semakin banyak hukum dan peraturan di dalam masyarakat, suasana aman, damai, harmoni dan makmur belum nampak lagi tanda-tanda kewujudannya. Berbagai krisis yang sangat membahayakan kehidupan manusia : krisis politik, sosial, hukum, ekonomi, moral, pendidikan, kemanusiaan dan lain-lain sedang berlaku di tengah masyarakat.. Terjadi perselisihan, penzaliman, pembunuhan dan peperangan yang menyebabkan pertumpahan darah. Masyarakat hidup mengikuti nafsunya masing-masing, yang kaya menderita, susah hati dalam menjaga dan menambah kekayaannya, yang miskin tidak sabar, susah hati karena tak memiliki harta dan melihat si kaya dengan penuh cemburu. Pergolakan politik di kalangan elit tidak pernah berhenti laksana air laut yang senantiasa bergolak, saling jatuh-menjatuhkan perkara biasa, berebut jabatan mengorbankan nyawa, muda-mudi hidup berfoya-foya dan terlibat narkoba, maksiat di mana-mana, kriminalitas dan pelanggaran hukum tidak berhenti, ibarat air sungai yang mengalir setiap waktu. Manusia hidup dalam kesusahan dan penderitaan. Jiwa-jiwa masyarakat tidak tenang, mereka bagai hidup dalam neraka dunia.

Mengapa ini semua terjadi? Tulisan ini mencoba melihat sebab-sebab kegagalan hukum dan peraturan buatan manusia serta memberi alternatif jalan keluarnya.

Manusia berkrisis ketika membuat hukum dan peraturan

Kebanyakan manusia di muka bumi tidak mengambil hukum dan peraturan dari Tuhan sebagai panduan hidupnya. Mereka mencoba dengan kekuatan akal, fisik dan perasaan yang ada pada mereka untuk membuat hukum dan peraturan. Maka terjadilah berbagai krisis seperti yang disebuntukan di atas. Mengapa hal ini terjadi?

Pengaruh fahaman dan idiologi

Ketika hendak membuat hukum dan peraturan, sudah terjadi perbedaan di antara manusia sekalipun penggubal hukum dan peraturan itu berasa dari suku, bangsa dan agama yang sama. Di dunia sekarang ini biasanya hukum dan peraturan dibuat berdasarkan kelompok yang berkuasa. Idiologi yang dibawanya, kekuatan dan kemampuan akal serta ketajaman perasaan dari pembuat Hukum dan peraturan akan memberi pengaruh kepada hukum dan peraturan yang akan dibuatnya. Ada yang hanya menggunakan akal, ada juga yang menggabungkan akal dengan fitrah manusia.

Mereka yang berfahaman sosialis akan membuat hukum dan peraturan yang terpengaruh dan sesuai dengan fahaman sosialis. Begitu juga dengan yang berfahaman komunis, capitalism, atau nasionalis, mereka akan membuat hukum dan peraturan yang terpengaruh dan sesuai dengan fahaman komunis, capitalism, atau nasionalis. Tentu saja mereka yang tidak sama fahamannya akan menolak dan melawan hukum dan peraturan yang dibuat oleh orang atau kelompok yang tidak sefaham dengan dia. Terjadilah krisis, tercetuslah kejahatan, padahal hukum dan peraturan belum selesai dibuat dan belum diterapkan dalam masyarakat.

Pengaruh kepentingan diri dan kelompok

Ketika membuat hukum dan peraturan, baik disadari oleh rakyat atau tidak, banyak yang dipengaruhi untuk mempertahankan kepentingan kuasa kelompoknya dan menekan kepentingan kelompok lain. Ada juga yang sanggup merancang hukum dan peraturan yang sesuai dengan kepentingan 1 kelompok yang sanggup membayar kepadanya. Karena kepentingan dari setiap kelompok berbeda, tidak sama, maka masing-masing berdiskusi, berargumentasi dan menggunakan berbagai cara untuk membela kepentingan kelompoknya dan menekan kepentingan kelompok lain. Kelompok satu mengatakan tidak adil kepada hukum dan peraturan yang dibuat kelompok lain, karena menurutnya hukum dan peraturan itu terlalu membela kepentingan kelompok yang menggubal hukum dan peraturan tersebut dan menekan kelompoknya. Terjadilah krisis, padahal hukum itu belum lagi diamalkan, sedang dalam proses penggubalan. Sebab itu tidak ada negara di dunia ini yang sama peraturannya dengan negara lain, sekalipun sama-sama demokrasi.

Melihat perdebatan dan krisis yang berlaku di Parlemen dan pejabat pemerintah tempat membuat hukum dan peraturan, maka kelompok rakyat yang merasa hukum dan peraturan itu akan mengancam kepentingan mereka melakukan demonstrasi yang kadang-kadang membawa kerusakan dan kekacauan di dalam negara. Melihat ini, kelompok rakyat yang menyokong hukum dan peraturan itu tertantang dan akhirnya turun juga berdemonstrasi. Kadang-kadang terjadi bentrokan fisik dan kekacauan yang sampai menimbulkan korban luka-luka dan bahkan mati. Hukum dan peraturan ini telah mencetuskan kejahatan sebelum diamalkan lagi di dalam masyarakat.

Kemudian ketika hukum dan peraturan itu akan diterapkan, maka perlu ditafsirkan, dibuat akta-akta atau petunjuk pelaksanaannya. Di sini terjadi krisis lagi sebab setiap kelompok memiliki tafsiran yang tidak sama. Masing-masing menafsirkan sesuai dengan kepentingannya. Kadang kritik dan ancaman pada kepemimpinannya dianggap ancaman kepada negara dan rakyat. Maka dia gunakan hukum dan peraturan untuk menangkap orang lain yang tidak bersalah. Berlakulah krisis, tuduh menuduh, bahkan perkelahian dan pembunuhan baik di dalam parlemen ataupun di kalangan rakyat. Padahal hukum dan peraturan itu baru di peringkat teori, belum di peringkat pelaksanaan. Artinya hukum dan peraturan itu yang tujuan dibuatnya untuk mengatur kehidupan manusia, membendung kejahatan agar manusia hidup aman, damai, harmoni dan selamat ternyata sebelum diterapkan dalam masyarakat sudah mencetuskan berbagai kejahatan dalam masyarakat. Artinya benih kejahatan sudah wujud ketika hukum dan peraturan itu masih dalam proses pembuatan lagi.

Manusia Berkrisis ketika mengamalkan hukum dan Peraturan Buatan manusia

Kemudian ketika akan mengamalkan hukum dan peraturan buatan manusia tersebut, maka timbul lagi krisis karena tidak puas hati dalam pelaksanaan hukum dan peraturan tersebut. Kesalahan dengan hukuman tidak seimbang, bergantung kepada siapa yang terlibat di dalam proses pengadilan tersebut seperti hakim, jaksa, pembela dan tertuduh. Sering terjadi orang yang membuat kesalahan kecil, dia dihukum mengikut hukum dan peraturan itu dengan hukuman berat. Ada juga yang membuat kesalahan berat tetapi hukumannya sangat ringan. Maka banyak hati yang tidak puas dan dari situ akan lahirlah kejahatan lain baik lahir maupun batin seperti : rasuah (sogok), hasad, dengki, mengumpat dan lain-lain. Yang kalah akan menyusun strategi dan menggunakan berbagai cara untuk dapat menang dan yang menang akan sombong, berbangga, walaupun kemenangan itu kadang-kadang dengan cara yang tidak benar.

Hukum dan peraturan sudah dibuat dan diamalkan dalam masyarakat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi sejarah menunjukkan betapa pelaksanaan hukum dan peraturan yang tujuannya agar manusia hidup aman, damai, selamat dan harmoni, ternyata semakin banyak hukum dan peraturan yang dibuat dan diamalkan manusia, kejahatan dan peperangan semakin banyak berlaku. Jadi tujuan hukum dan peraturan yang diharap akan membendung kejahatan tidak tercapai.

Selama ini hukum dan peraturan belum pernah memberi keselamatan, kedamaian dan keharmonian kepada masyarakat manusia. Mengapa hal ini terjadi? Tidak adakah pakar dan cerdik pandai yang mengkaji hal ini? Mengapa manusia bukannya takut menempuh cara ini bahkan meneruskannya? Bahkan prestasi dari sebuah parlemen adalah sebanyak mana hukum dan peraturan yang digubalnya. Padahal semakin banyak hukum dan peraturan yang dibuatnya semakin banyak kejahatan dan kekacauan dalam masyarakat. Mangapa hal ini terjadi? Ada beberapa faktor penyebabnya.

a. Mengambil hak Tuhan

Sebenarnya yang berhak membuat hukum dan peraturan untuk dunia dan manusia adalah Tuhan. Tuhanlah yang mencipta manusia, yang mencipta dunia. Sudah tentu Tuhan tahu masalah dunia, tahu fikiran, nafsu dan ruhaniah manusia. Jadi yang paling tepat untuk membuat hukum dan peraturan adalah Tuhan. Tetapi manusia sudah mengambil kuasa Tuhan. Ini suatu kesalahan besar yang dibuat manusia. Secara sadar atau tidak, manusia sudah menuhankan dirinya sendiri. Manusia sudah mengambil hak Tuhan. Manusia sudah ingin menjadi Tuhan. Maka datanglah kemurkaan Tuhan kepada mereka, maka Tuhan akan berlepas diri dan tidak membantu manusia dalam menciptakan keamanan, kedamaian dan keharmonian dalam kehidupan mereka. Semakin banyak hukum dan peraturan dibuat, semakin banyak kejahatan dalam masyarakat. Itulah sumber utama masalahnya. Hukum dan peraturan yang dibuat manusia itu akhirnya balik menimpa diri manusia. Inilah rahasia yang tersembunyi, rahasia yang tersirat, yang ahli dan pakar hukum tidak nampak, sebab mereka hanya melihat yang lahiriah saja dengan mata dan akal saja. Seolah Tuhan berkata, engkau hendak menjadi Tuhan, buatlah hukum dan peraturanmu sendiri dengan akalmu. Maka gagallah mereka. Masyarakat semakin kacau dan huru hara.

b. Undang-Undang dan peraturan dibuat berdasar akal manusia semata.

Akal manusia sangat terbatas, ia hanya dapat mengesan benda-benda yang lahiriah, nampak oleh mata dan akal serta lojik saja. Tidak dapat mengesan ruhaniah dan perasaan manusia. Maka dengan akal saja, manusia tidak nampak kebenaran dan kalaupun nampak sedikit saja. Kadang-kadang tersalah dalam membuat hukum dan peraturan. Kesalahan kecil dihukum terlalu berat, kesalahan berat dihukum terlalu ringan. Banyak orang yang tidak puas hati, maka mereka akan berontak, berdendam, dan merancang pembalasan. Bahkan yang membangunkan hukum dan peraturan itu juga membuat salah.

Karena kemampuan akal manusia terbatas, maka ada kejahatan yang tidak dinilai jahat, dan ada kebaikan yang tidak dinilai baik. Semuanya didorong oleh kepentingan diri, kelompok dan golongan

Contoh : bila di suatu negara ada orang yang menggugat kepemimpinan pemimpin yang berkuasa, bukan menggugat negara, maka untuk menjaga kepentingannya, ditafsirkan menggugat negara. Maka lahirlah ISA (Internal Security Act atau Undang-Undang Anti Subversif). Ditangkaplah orang tersebut. Itu kepentingan individu. Negara lain mungkin mempersoalkan, tetapi masih berdasar otak juga. Tidak ada kesannya. Bila terjadi penangkapan atas dasar ISA, maka banyak orang yang gelisah. Yang terkena itu lagi marah, kadang-kadang rakyat ikut marah. Dari satu kejahatan, lahirlah kejahatan yang lain. Kejahatan semakin bertambah. Yang tidak jahat dianggap jahat karena kepentingan pemimpin.

Contoh lain : ada kejahatan di dalam negara tetapi ditafsirkan bukan sebagai kejahatan, karena yang menafsirkan mendapat keuntungan. Contohnya pergaulan bebas lelaki dan perempuan yang bukan mahrom, sebenarnya satu kejahatan, tetapi tidak dianggap sebagai kejahatan. Maka para pemuda dan pemudi mengamalkan pergaulan bebas tanpa rasa bersalah. Mengapa?

  1. Penafsir hukum dan pemimpin terlibat dalam kesalahan itu.
  2. Kalau pemuda pemudi dan rakyat lalai dari hukum-hukum Tuhan, maka mudah dipengaruhi untuk menyokong dia.

Dari kejahatan itu lahirlah kejahatan lain. Ada yang sadar dan tidak puas hati, maka mereka marah dan melahirkan kemarahan mereka. Lahirlah kejahatan-kejahatan lain yang bertumpuk-tumpuk..

c. Kefahaman yang salah tentang kejahatan (maksiat)

Hukum dan Peraturan yang dibuat manusia ini tidak mampu membendung kejahatan bahkan semakin banyak orang yang bertambah jahat, karena orang yang membuat hukum dan peraturan itu hanya berdasar akal, fitrah, dan kepentingan golongan-golongan. Bila nampak oleh mata dan dikesan oleh akal sebagai kejahatan, barulah mereka katakan jahat. Pakar hukum tidak nampak sumber utama atau akar permasalahan kejahatan di dalam masyarakat. Padahal sebelum lahir buah (kejahatan), sudah tentu ada pohon yang menghasilkan buah (kejahatan) itu. Kalau hanya buah yang pahit dan rusak saja yang dibuang, sedangkan pohonnya masih ada, bahkan dipupuk, disuburkan dan dibelai, maka akan lahir lagi buahnya yang pahit. Pohon yang melahirkan buah kejahatan itu ada 2, ada yang lahir dan ada yang batin. Ada kejahatan awal yang mata dan akal tidak nampak baik kejahatan yang lahir maupun kejahatan yang batin.

Oleh karena umat Islam hari ini secara umum fikiran dan jiwa mereka sudah rusak, hampir sama dengan orang yang bukan Islam maka terjadilah berbagai pandangan atau pendapat tentang maksiat, kejahatan atau gejala masyarakat. Ada pendapat yang diterima bersama ada yang tidak diterima berasama. Artinya ada maksiat atau kejahatan yang secara universal dan umum dianggap sebagai maksiat atau kejahatan. Ada juga maksiat atau kejahatan yang dianggap maksiat atau kejahatan oleh Islam tetapi tidak dianggap sebagai maksiat atau kejahatan oleh ajaran ideologi atau isme lain.

Tindakan yang diterima bersama sebagai maksiat atau kejahatan misalnya membunuh, berkelahi, menipu, membohong, huru hara, bergaduh dll. Tindakan-tindakan ini dianggap sebagai maksiat oleh semua bangsa, golongan dan ethnic, sehingga mereka berusaha untuk memeranginya. Tetapi ada juga tindakan-tindakan yang tidak diterima bersama sebagai maksiat, seperti : bergaul bebas lelaki perempuan yang bukan muhrim. Ada gol yang menganggap maksiat dan ada juga golongan yang tidak menganggap maksiat. Atau perzinahan, ada yang menganggap maksiat ada juga yang menganggap bukan kejahatan asal tidak ada paksaan dan dibuat atas dasar suka sama suka. Kalau ada paksaan baru dianggap kejahatan.

Dari pergaulan bebas tersebut maka lahirlah zina yang dapat melahirkan bayi. Karena takut dan malu mendapat bayi di luar perkawinan, maka bayi itu dibunuh. Lahirlah kejahatan lain yang lebih berat. Padahal menurut hukum dan peraturan buatan manusia, pergaulan bebas itu tidak salah. Sedangkan membunuh itu salah. Buahnya salah. Inilah yang terjadi, pohon kejahatan dibelai, dipupuk, disuburkan, sedangkan buahnya berusaha untuk dibuang. Maka setelah buah yang rusak itu dibuang akan muncullah buah-buah lain yang pahit dan rusak juga.
Mengikuti ajaran Islam, maksiat itu sangat halus. Bukan saja maksiat lahir, maksiat batinpun (sifat-sifat mazmumah) dianggap maksiat atau kejahatan, seperti: sombong, megah, ria, ujub, tidak ikhlas, hasad dengki, sangka buruk, ego, lalai, pemarah dll. Ini dianggap sebagai gejala maksiat atau kejahatan juga. Karena Islam melihat, maksiat-maksiat lahir itu berpunca atau bersumber dari maksiat batin. Dengan kata lain, kejahatan yang ada di dalam hati manusia adalah pohon maksiat atau kejahatan yang akan melahirkan buah-buah maksiat atau kejahatan yang lahir. Pakar hukum tidak nampak mazmumah ini

Akhirnya lahirlah kejahatan-kejahatan lain yang sebelumnya tidak pernah ada : seperti narkoba, sumbang mahram dan lain-lain. Kalau sebelumnya tidak ada akta, maka untuk menyelesaikan kejahatan-kejahatan baru ini dibuat lagi hukum, peraturan dan akta-akta baru. Hasilnya akan lahir lagi kejahatan-kejahatan baru. Kejahatan itu sudah beranak-pinak. Hukum yang dibuat tidak mampu dan berhasil mencegah atau mengurangi kejahatan, sebab hukum itu dibuat bukan karena melihat akar dan pohon kejahatan tetapi melihat buahnya saja. Hukum sebenarnya bagaikan pagar yang akan melindungi kebun dari gangguan hewan seperti kambing, lembu dan sebagainya. Ia tidak dapat mencegah kejahatan, hanya mengawal saja dengan kemampuannya yang terbatas.

Contohnya bila ada seekor kambing yang ganas dan liar yang kita tidak mampu menjaga dia, maka kita buat pagar. Ini seolah-olah kita minta pagar untuk menjaga dia. Seolah kita berkata pada pagar, wahai pagar jagalah kambing. Engkaulah harapan aku. Kalau hanya ada 1 2 ekor kambing mungkin masih boleh. Tetapi bila kambing itu sudah beranak pinak sampai 1000 ekor, mampukah pagar menjaga kambing yang tidak terdidik itu?. Tentu tidak, habis pagar akan diterjangnya.

Begitulah dengan kejahatan manusia yang bersumber dari nafsu dan sifat mazmumahnya. Kalau kejahatan itu sedikit, mungkin masih boleh dikawal dengan hukum dan peraturan yang merupakan pagar masyarakat. Tetapi kalau semua golongan dalam masyarakat sudah jahat : pemimpin jahat, rakyat jahat, anggota parlemen jahat, pensyarah atau dosen hukum jahat, polisi jahat, hakim jahat, negara jahat, pengusaha jahat, mahasiswa jahat, bagaimana hukum dan peraturan dapat mengawal kejahatan yang sudah banyak itu? Habis pagar mereka runtuhkan.

Hari ini, baik maksiat yang diterima bersama atau tidak diterima bersama, buah-buahnya ingin dibanteras, tetapi pohonnya ditanam dan disuburkan. Orang tidak suka maksiat berlaku, tetapi pintu maksiat dibuka luas. Mereka tidak suka kejahatan dan gejala masyarakat, tetapi jalan-jalan menuju kejahatan dan gejala dibuka luas. Seolah-olah manusia hari ini sudah jadi bodoh. Mereka tidak ingin buahnya, tetapi pohon buahnya ditanam, dipupuk dan disuburkan. Mereka tidak suka lahirnya bahaya, tetapi jalan pada bahaya dia rentang. Disini baru kita sadar walau bagaimana cerdiknya akal ia jadi bodoh, kalau soal-soal rohaniah dia tidak faham. Akal saja tidak boleh nampak. Sebab itu faktor ruh sangat diambil berat. Jadi akal hanya nampak mana maksiat yang side effect cepat berlaku yaitu yang diterima bersama macam membunuh, bergaduh, merompak. Jadi akal cepat nampak. Itu yang dianggap maksiat dan kejahatan. Membaca majalah dan melihat program TV yang memuat gambar yang tidak menutup aurat, pergaulan bebas, pameran materialisme dan lain-lain, akal tidak dapat mengesan kemungkinan itu.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer