04 Mari Kenali Dan Rasakan Kehebatan Tuhan






Untitled Document



Allah Maha Esa

Esa adalah salah satu sifat yang wajib bagi Allah SWT. Ada orientalis yang bertanya, apa hujah Tuhan itu Esa. Kalau kita jawab dengan hujah yang ada dalam kitab, bahwa kalau Tuhan itu banyak nanti mereka akan bergaduh antara satu sama lain, maka apa yang akan terjadi dangan dunia ini. Maka orientalis itu akan menjawab : kalau mereka itu tuhan, sudah tentu mereka bijaksana dan dengan kebijaksanaan mereka tentu mereka dapat mengatur dunia dan alam ini dengan bijaksana melalui power sharing. Bagaimana kita dapat menolak hujah dan argumen seperti ini?

Kalau kita katakan Tuhan itu dua atau lebih, berarti kedua-dua tuhan itu lemah sebab perlu dua tuhan. Artinya mereka perlu tolong menolong. Jika perlu pertolongan maka mereka bukan Tuhanlah, karena Tuhan tidak memerlukan pertolongan. Katalah kedua-dua tuhan itu baik, tidak bergaduh, Tuhan mana yang akan dipilih untuk disembah? Bila ada 2 Tuhan yang bekerjasama artinya Tuhan lemahlah. Kalau dia lemah dia bukan Tuhan. Kalau manusia menerima konsep Tuhan itu 2 atau 3, maka mereka telah meletakkan Tuhan begitu lemah. Kalau sudah bersifat lemah, tentu mereka bukan tuhan.

Kalau kita terima pendapat yang mengatakan bahwa Tuhan itu 2 atau 3 artinya:

  1. Sudah salah mengatakan Tuhan itu berbilang.
  2. Kalaulah Dia berbilang artinya dia lemah, dia memerlukan sesuatu dari yang lain.
  3. Contoh : kalau ada seorang yang ingin membesarkan diri, maka dia akan mencari benda yang ada pada dia tetapi tidak ada pada orang lain, contohnya intan, istana dan lain-lain. Mengapa dia jadi megah dan bangga ? Sebab dia ingin membesarkan diri. Kalau 2 tuhan sama-sama mempunyai sifat yang sama, apa yang akan dibanggakan.
  4. Menafikan bahwa Tuhan berkuasa mutlak atas segala sesuatu itu. Jika tuhan 2 atau lebih, bukan Allahu Akbar lagi. Tidak boleh kita kata Allahu Akbar, sebab ada tuhan kedua yang sama besar.

Jadi di sini sudah ada 4 ciri yang bukan Tuhan.

Hari ini umat Islam mudah sangat diperkotak-katikkan oleh orang lain, kadang dengan satu perkataanpun akidah umat sudah rusak. Patutnya ada usaha dari ulama-ulama Islam untuk memastikan dan menyempurnakan akidah umat Islam. Bila ada yang sampai terpengaruh dengan hujah bahwa bila Tuhan itu ada 2 atau 3, dan boleh berbaik-baik, itu lagi dahsyat sebab mereka meletakkan Tuhan memerlukan pada Tuhan yang lain. Padahal memerlukan itu bukan konsep atau ciri yang dimiliki Tuhan. Kalau dia katakan demikian maka dia tidak faham dengan konsep Tuhan.

Contohnya ciri khusus telefon ialah dia boleh menghubungkan orang untuk dapat bercakap dari jauh. Tiba-tiba ada orang yang menafikan ciri khusus itu, misalnya dengan mengatakan bahwa telefon ialah satu alat yang tidak boleh menghubungkan 2 orang yang berjauhan. Jadi pada orang ini kita kata dan fahamkan dia bahwa sebenarnya dia tidak faham tentang telefon.

Salah satu sifat khusus bagi Tuhan adalah Dia mesti Esa, tunggal dan tidak boleh dipecah-pecah, sebab itu merupakan kemestian bagi apa yang dikatakan Tuhan. Kalau Dia mempunyai sifat yang sama dengan yang selainnya, artinya dia bukan Tuhan. Dengan maksud, kalau ada orang yang datang dan berkata bahwa Tuhan sebenarnya bukan Esa, maka kita dangan mudah kita katakan pada dia bahwa kau tidak kenal Tuhan. Tuhan adalah sesuatu yang tiada tandingannya dan tiada pecahannya. Mengapa? Sebab Dia adalah Tuhan. Sifat wajib bagi Tuhan yang special, yang khusus adalah bahwa Tuhan bersifat Esa. Kalau tidak ada sifat itu, maka itu bukan tuhan.

Mari Fahami tauhid Abu Hasan al Asy'ari

Banyak orang yang menolak tauhid (sifat 20) Abu Hasan al Asy'ari, karena mereka tidak faham latar belakang perumusan tauhid tersebut. Mereka melihat fakta dalam masyarakat awam, banyak orang yang cenderung menjadi jabariah, jumud, tidak aktif dan lain-lain setelah mengamalkan tauhid (sifat 20) Abu Hasan al Asy'ari. Selain itu orang-orang yang mengamalkan tauhid (sifat 20) Abu Hasan al Asy'ari biasanya kurang menggunakan akal sehingga tidak dapat menjawab hujah-hujah mereka yang menolak ini. Akhirnya orang-orang yang kuat akal itu melihat banyak kelemahan pada tauhid (sifat 20) Abu Hasan al Asy'ari. Padahal mereka sendiri kadang tergelincir ke dalam qadiriah tanpa mereka sadar.

Memang banyak yang menyadari bahwa tauhid Abu Hasan Al Asy'ari kurang dapat dihayati oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa?

Sebenarnya, waktu itu datang fahaman falsafah baru yang merusakkan aqidah umat. Dan sesuai dengan hadis yang disebut Rasulullah SAW, maka Allah utus seorang mujaddid yaitu Abu Hasan Al Asy'ari untuk mempertahankan aqidah umat. Sewaktu menulis dan merumuskan tauhid sifat 20 itu, Abu Hasan al Asy'ari terlalu cemas. Dia dihadapkan dengan 2 pilihan, menyelamatkan umat dari kesesatan atau mengutamakan penghayatan sehingga akibatnya banyak umat Islam yang akan jadi kafir. Karena kesesatan itu lebih berbahaya bagi manusia, maka Abu Hasan al Asy'ari diilhamkan oleh Allah untuk merumuskan tauhidnya yang mampu menolak hujah-hujah fahaman baru dengan akal, tetapi mengabaikan sedikit penghayatan. Bagi orang yang tidak ada kaedah mempelajari tauhid, selagi tidak ada kaedah lain, lebih baik dia ikut kaedah Abu Hassan Ashaari. Walaupun kita terasa, belajar tauhid secara Abu Hasan al Asy'ari itu letih, karena kita kaji secara aqal bukan secara rohaniah. Tetapi lebih baik dari pada tidak ada kaedah sama sekali.

Kenali dan Rasakan Wujudnya Tuhan

Hari ini umat Islam bila hendak memperjuangkan Islam, yang mereka nampak adalah memperjuangkan syariat Islam. Syariat diperjuangkan lebih dahulu. Padahal sepatutnya Tuhan yang dikenalkan lebih dahulu. Coba baca sejarah Rasulullah, Baginda menggunakan masa selama 13 tahun untuk menanamkan iman dan tauhid. Dengan kata lain Tuhan yang Esa itu diperkenalkan terlebih dahulu kepada umat Arab Jahiliah. Sebab Tuhan adalah segala-galanya. Bila kita mengenalkan syariat lebih dahulu, orang menerima Islam tidak secara suka rela tetapi dengan terpaksa, sebab sudah diikat dengan peraturan ini halal, ini haram dst.

Misalnya seorang anak hanya disuruh untuk mengambil air, menyiram bunga, tanpa diceritakan dulu mengapa dia mesti membuat kerja-kerja itu. Sebab itu dia mengerjakan tugas secara terpaksa. Semestinya sebelum menyuruh seorang anak menyiram bunga diceritakan dulu bahwa bunga ini kepunyaan ayah dan ibu yang telah terlalu banyak jasa, memelihara dan mencari rezeki untuk dirinya. Sebab itu sudah sepatutnya dia berkhidmat kepada ayahnya. Kalaulah si anak diceritakan hal ini tentulah akan dibuat dengan senang hati.

Begitu juga dengan Tuhan. Sebelum dikenalkan dengan syariat, semestinya dikenalkan dulu dengan yang memiliki syariat tersebut. Bukan hanya sekedar menghafal dan tahu sifat-sifat Tuhan, wujud, qidam, baqa dst, melainkan mengenal Tuhan hingga dihayati, sehingga timbullah rasa cinta dan ingin berkhidmat sebagaimana seorang anak dengan ayahnya tadi. Bila sudah kenal dan cinta maka Tuhan akan dirasakan sebagai tempat bertanya, merujuk dan terasa akrab.

Hari ini orang-orang bersemangat untuk perjuangkan syariat, seperti syariat Hudud yang dianggap besar. Padahal sebesar apapun syariat itu, dia tidak dipandang besar kalau tidak dikaitkan dengan Tuhan. Sedangkan di zaman Rasulullah, syariat dari yang kecil sampai yang terbesar dilaksanakan atas dasar cinta dan takut dengan Tuhan. Syariat dilaksanakan untuk merasakan kehebatan dan kebesaran Tuhan.

Tuhan memberi tahu kita kalau hendak merasakan kebesaranKu, maka mengadulah kepadaKu. Buatlah apa saja dengan cara-cara yang aku beri untuk mengabdikan diri dengan aku, untuk merasakan takut dan timbul rasa hendak mengabdikan diri kepadaKu. Bagi orang yang bukan Islam tetapi percayakan Tuhan, rasa bertuhan itu ada cuma mereka tidak dapat hidayah. Maka untuk membuktikan mereka juga cintakan Tuhan, mereka membuat berbagai peribadatan dengan cara mereka. Ini tidak sah, Tuhan tidak terima.

Rasa Bertuhan yang kuat Mendorong orang kuat Beramal

Kalau kita lihat di zaman Rasulullah SAW, para sahabat rasa bertuhannya kuat, artinya kemana pun pergi mereka membawa rasa bertuhan. Seolah-olah Tuhan berkata, di mana engkau berada disitulah Aku berada, artinya Tuhan dihayati betul-betul dalam jiwanya. Perasaan bertuhan itu kuat. Kalau rasa bertuhan itu kuat, maka akan terasa selalu diawasi oleh Tuhan di mana pun dia berada. Rasa bertuhan yang kuat ini mendorong mereka kuat untuk beramal dan berjuang sehingga dalam masa yang singkat Islam boleh diterima di seluruh Timur Tengah.

Para sahabat memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan. Ibadah-ibadah yang fardhu terutama sholat tidak terabai oleh kerja-kerja lain. Walaupun kerja dunia itu kadang-kadang nampak besar dan sukses, tapi bagi orang beriman ketika datang panggilan Tuhan, maka itulah yang utama. Bahkan bagi mereka, setengah jam sebelum waktu sholat sudah mesti menyiapkan diri. Kalau tidak dapat, minimal 15 menit sebelum sholat.

Para sahabat Rasulullah SAW, disiplin sholatnya sangat kuat. Hal ini disebabkan kekhusyukan dalam sholat dapat dibantu dengan datang awal ketika masuk waktu sholat. Ketika itu kita bertafakur, berfikir tentang kebesaran tuhan dan mengingat dosa-dosa. Hal itu sangat membantu untuk mendapatkan khusyuk dalam sholat. Coba bandingkan bila ketika 10 menit lagi hendak sholat, kita makan dulu, lihat majalah dulu dll. Tentunya kegiatan itu yang akan ada dalam ingatan kita ketika sholat. Sedangkan kejadian yang telah 2 tahun lewat, tiba-tiba dapat teringat, apalagi yang 10 menit menjelang sholat.

Sebab itu sepatutnya 10 atau 15 menit atau setidak-tidaknya sewaktu azan kita sudah ada di tempat sholat. Walaupun misalnya 10 atau 15 menit itu kita bukan di tempat sholat, tapi mungkin di tempat kerja atau di dalam kamar, tapi kita sudah keadaan siap sedia untuk menunaikan sholat. Ketika azan langsung menuju tempat sholat.

Kalaulah kita menjaga hak-hak Tuhan, terutama ibadah sholat, maka hubungan kita baik dengan Tuhan. Nantinya kerja-kerja dunia akan menjadi mudah, sebab Tuhan yang akan melakukannya untuk kita. Kalau kita bersusah-susah untuk amalan yang akan menyelamatkan kita di akhirat, maka dengan dunia ini kita akan dimudah-mudahkan oleh Tuhan.

Sebab itu perlu untuk selalu istiqamah dalam mengerjakan segala ibadah, terutama ibadah yang fardhu. Kita mohon pada Tuhan untuk dapat selalu istiqamah. Bahkan itu lebih utama daripada memohon keselamatan. Dengan istiqamah itulah kita akan mendapat keselamatan. Sebab kalau kita kadangkala istiqamah, kalau Tuhan memberi kejayaan bukan atas dasar kasih sayangNya(istidraj).

Istiqamah diawali dengan ibadah yang fardhu, kemudian barulah yang sunat, seperti sholat sunat, puasa sunat, sedekah dll. Ibadah sholat sunat yang utama diistiqamahkan adalah sholat malam. Ibadah itu meningkatkan derajat seorang hamba karena jatuh kasih sayang Tuhan kepadanya.

Namun istiqamah bukanlah satu yang mudah. Istiqamah itu dapat dilakukan oleh orang yang kuat disiplinkan diri. Sebagaimana Sayidatina Aisyah tidak pernah meninggalkan amalan sedekah walaupun hanya dengan setengah biji kurma. Banyak sekali amalan yang kita buat tidak istiqamah, seperti sholat, kadang dibuat tepat waktu, kadang tidak. Bahkan lebih sering dibuat terlewat dari waktunya. Kadang puasa, kadangkala tidak. Padahal kalau kita dapat membuat amal secara istiqamah, maka insya Allah kerja kita dimudahkan oleh Tuhan.

Kadangkala kita beralasan tidak dapat istiqamah dalam beribadah, seperti sholat di awal waktu ataupun sholat berjemaah disebabkan kesibukan kerja-kerja rumah tangga, mengurus anak-anak dll. Memang begitulah kenyataan yang kita hadapi sehari-hari. Tapi bila rasa bertuhan telah kuat tertanam dalam hati, sebagaimana kehidupan wanita di zaman para sahabat, maka walaupun kehidupan mereka lebih susah, tapi dapat pertahankan istiqamah.

Sebab bagi mereka kalau kita kita jaga hubungan dengan Tuhan, maka Tuhan akan mudahkan segala urusan kita. Coba kita bayangkan kehidupan para wanita di zaman Rasulullah SAW, untuk mendapatkan air wudhu mesti pergi dulu ke perigi di padang pasir. Tapi mereka tetap dapat juga istiqamah sembahyang malam. Sebab itu pernah Rasulullah bercerita pada para sahabat, nanti umatku dimudahkan oleh Allah dengan bermacam-macam kemudahan, seolah-olah waktu itu Rasulullah nampak air pun ada di dalam rumah.

Sahabat yang ketika itu mendengar merasa sedih. Seolah-olah sahabat berkata, mudah-mudahan umat Rasulullah SAW di waktu itu kuat ibadah, sebab merasakan betapa mereka susah untuk ibadah karena susah untuk mendapatkan air. Rasulullah SAW berkata, oh tidak begitu, justru sekarang lebih baik. Seolah-olah Rasulullah SAW berkata kemudahan itu lah yang melalaikan, kesusahan kamu itulah yang menjadikan kamu kuat dan bersiap siaga.

Rasa bertuhan itu perlu dibawa kemana-mana. Walaupun sukar dan belum berjaya tapi mesti dicoba. Tuhan nilai bukan karena ibadah, tapi usaha yang istiqamah, sehingga datang rahmat Tuhan. Jika tidak berjaya, mohon ampun dengan Tuhan. Tuhan tidak berkata, siapa yang berjaya itu selamat, tapi siapa yang mencoba, kemudian tidak berjaya tapi rasa tersiksa, maka akan datanglah rahmat Allah kepadanya.

Rasa bertuhan yang tajam melahirkan insan berakhlak mulia

Orang yeng memiliki rasa bertuhan yang tajam akan melahirkan akhlak yang mulia, misalnya sabar, gigih, lemah lembut, pemaaf, berkasih sayang, bertolak ansur, tawadhuk, pemurah dan lain-lain.

Pemaafnya orang yang memiliki rasa bertuhan yang tajam sampai pada peringkat dia tidak marah kepada orang yang membuat kesalahan, sebab setiap kali dia melihat kesalahan orang lain, dia merasakan dia lebih salah dan jahat dari orang tu. Dia tidak akan menegur secara langsung, kecuali bila kesalahan itu membahayakan perjuangan. Dia doakan agar orang tersebut insyaf dan membaiki kesalahannya. Bila seseorang itu merasakan dia lebih bersalah dari orang yang terlanjur berbuat salah, maka dia tidak akan menjatuhkan orang lain.

Orang yang rasa bertuhannya tajam telah melalui riyadhatun nafs yang bukan taraf biasa tapi bertaraf luar biasa, seperti berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat pada dia. Dia akan rasakan dirinya yang paling jahat, paling berdosa. Kalau dipuji orang, dia sibuk menolak pujian, hatinya susah, sebab dia terasa Allah melihatnya dan mengetahui yang dirinya tidak seperti yang orang puji itu. Dia mudah memaafkan orang bahkan berbuat baik dengan orang yang pernah berbuat zalim atau jahat kepadanya, karena dia melihat dirinya paling jahat. Dia rasa Allah datangkan orang untuk menghukumnya karena dia telah berdosa pada Allah. Inilah rasa kehambaan yang luar biasa.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer