admin's blog

Kisah Ke-71: Berilah Aku Petunjuk

Khalifah al-Mustanjid bin al-Muqtafa berkata, "Lima belas tahun yang lalu aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata, 'Ayahmu memangku jabatan sebagai khalifah selama lima belas tahun.'
Benar. Apa yang dikatakan oleh Rasululullah saw. benar-benar terjadi.
Empat bulan sebelum ayah meninggal, aku memimpikan Rasulullah saw. lagi. Beliau memasuki sebuah pintu besar bersamaku, kemudian naik menuju puncak gunung, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Setelah itu, beliau memakaikan aku sebuah jubah seraya berkata,

Kisah Ke-70: Haji dengan Berjalan kaki

Harun ar-Rasyid berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. dan beliau berkata kepadaku, Wahai Harun... tanggung jawab ini (sebagai khalifah bagi umat Islam) telah kamu terima. Laksanakanlah haji dengan berjalan kaki dan hiduplah bersahaja. Berilah kelapangan kepada penduduk Haramain (Mekah dan Madinah).'"
Harun ar-Rasyid kemudian memberikan kekayaan yang melimpah kepada penduduk Mekah dan Madinah. Belum pernah ada khalifah—setelah dan sesudah Harun yang melaksanakan haji dengan berjalan kaki. Ia termasuk bagian dari khalifah yang baik.

Kisah Ke-69: Mendapat Syafaat Rasulullah

Pada masa awal pemerintahannya, Qadhi Shadaruddin Mauhub al-Jazari diperintahkan untuk menangani kawasan Ibnu Umar. Ia adalah seorang yang kaya, perdagangannya lancar, dan memiliki kekayaan yang melimpah. Penguasa kawasan itu mengirim mata-mata untuk menyelidiki kekayaan Ibnu Umar. Ia ingin mengambil kekayaan-kekayaan itu. Kabar itu didengar oleh Ibnu Umar.
Lalu ia mengirim hartanya ke Mesir dan Syam bersama para pedagang. Ia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Ia tiba di Syam, lalu meneruskan perjalanan ke Mesir.

Kisah Ke-68: Ibnu Qawwas Memimpikan Rasul

Muhammad bin Ali al-Allaf berkata, "Pada suatu hari, aku menghadiri majelis taklim Abu Hasan bin Mas'un. Ketika itu, ia duduk di atas kursinya memberikan ceramah. Sementara itu, Abu Fatah bin Qawwas duduk di samping kursi itu. Tiba-tiba ia terserang kantuk dan tertidur. Ibnu Mas'un menghentikan ceramahnya hingga Ibnu Qawwas terbangun. Ibnu Mas'un berkata kepadanya, Apakah engkau melihat Rasulullah di dalam mimpimu?'
'Ya,' jawab Ibnu Qawwas.
Ibnu Mas'un berkata, 'Karena itulah aku menghentikan ceramahku. Aku takut engkau akan terbangun dan mimpimu terputus.'

Kisah Ke-67: Jangan Tinggalkan Agama Islam

Abu Ali Hasan al-Hakari berkata, "Aku bermimpi seakan aku memasuki sebuah rumah dan aku melihat Nabi saw. sedang berbaring. Beliau merentangkan jubahnya menghadap kiblat. Aku duduk di samping kiri Nabi. Nabi menoleh ke arahku dan berkata, 'Jangan tinggalkan agama Islam.'
Aku berkata, 'Tidak mungkin, wahai Rasulullah. Bagaimana mungkin saya meninggalkan agama Islam?'
Aku memegang pundak kanan beliau. Lalu aku berkata, 'Saya di sini akan memperbarui Islam. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya."

Kisah Ke-66: Bekal Orang yang Ingin Selamat

Syekh Abu Ishak asy-Syairazi berkata, "Aku tidur di Bagdad dan memimpikan Rasulullah saw. bersama Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Aku berkata kepada Rasulullah saw., 'Wahai Rasulullah, aku telah mendengar banyak hadits dari para perawi, tapi aku ingin mendengar hadits langsung darimu. Aku akan menjadikannya sebagai pegangan di dunia dan sebagai simpanan untuk akhirat.'
Beliau berkata, Wahai syekh (beliau memanggilku dengan syekh, dan aku senang dengan panggilan itu), katakan dariku, 'Barangsiapa yang menginginkan keselamatan maka carilah di dalam keselamatan orang lain.'"

Kisah Ke-65: Jangan Ragu Meriwayatkan Hadits

Ketika Ali bin Abu Thahir berangkat ke negeri Syam, dan sebelumnya ia menulis hadits, ia meletakkan kitab-kitabnya di sebuah kotak dan melapisinya dengan cat antiair yang terbuat dari aspal. Lalu ia berangkat dengan mengunakan kapal. Di tengah lain, kapal itu dilanda ombak besar. Kotak-kotak itu terlempar ke laut. Baru setelah itu gelombang mereda. Ketika tiba di daratan, selama tiga hari ia menunggu di pantai berdoa kepada Allah.

Kisah Ke-64: Orang Mukmin Laksana Anggota Tubuh

Imam Thabrani rahimahullah berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw. dan aku menanyakan hadits,
'Perumpamaan orang-orang mukmin - dalam jalinan kasih sayang, cinta, dan kedekatan mereka-ibarat satu tubuh. Jika satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh badan begadang dan demam juga.'
Nabi saw. menjawab, sambil memberikan isyarat dengan jarinya tiga kali, 'Sahih, sahih, sahih."

Kisah Ke-63: Hari Esok Harus Lebih Baik

Seorang syekh dari bani Salim berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw., dan aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, bagaimana kabarmu?'
Beliau berkata, 'Kamu ingin aku mengatakan sebuah hadits untukmu?'
'Ya.' jawabku.
Beliau kemudian berkata,
"Barangsiapa yang hari-harinya sama (22) maka ia sangatlah merugi. Orang yang hari esoknya lebih buruk daripada hari ini, maka ia orang yang terlaknat. Barangsiapa yang tidak mengalami peningkatan, maka ia berada di dalam kekurangan. Dan barangsiapa yang berada di dalam kekurangan, maka kematian lebih baik untuknya."

Kisah Ke-62: Hiduplah Sesuai Kehendakmu

Syekh Ridwan ash-Shabbag memimpikan Rasulullah saw. di sebuah masjid agung di kota Sheda. Begitu banyak orang berduyun-duyun menemui beliau. Lalu seseorang berkata, "Ridwan, masuk dan berbicaralah dengan Rasulullah."
Syekh Ridwan kemudian masuk dan bertemu dengan Nabi saw. Beliau memberikan wejangan kepadanya dan berkata, "Ridwan, keluarlah! Sampaikan bahwa aku berkata,
'Hiduplah sesuka hatimu, sungguh kamu akan mati. Cintailah siapa pun yang kau mau, sungguh kamu akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu, sungguh kamu akan mendapat balasan."

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer