admin's blog

Salam Rasulullah kepada Abu Ali bin Syadzan

Muhammad bin Yahya al-Karmani berkata, "Kami sedang bersama Abu Ali bin Syadzan, ketika tiba-tiba ada seorang pemuda masuk (ke forum kami). Tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalinya. Ia mengucapkan salam dan berkata, 'Siapa di antara kalian yang bernama Abu Ali bin Syadzan?

Kami menunjukkannya kepada Abu Ali.
Pemuda itu berkata kepada Abu Ali, 'Syekh, aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata kepadaku, 'Carilah Abu Ali bin Syadzan(12), jika kamu bertemu dengannya, sampaikan salamku kepadanya."

Bacaan Al-Qur'an Tanpa Tangisan Saleh Al Mari

Saleh al-Mari rahimahullah berkata, "Aku membacakan (Al-Qtir'an) untuk Nabi saw. di dalam mimpiku. Lalu beliau berkata kepadaku, 'Wahai Saleh, begini bacaanmu. Di mana tangisanmu?"

Rasulullah Mencium Syalabi

Abu Bakar bin Muhammad bin Umar berkata, "Aku sedang bersama Abu Bakar bin Mujahid, ketika tiba-tiba datang Imam Syalabi (11). Abu Bakar bin Mujahid berdiri menyambut, memeluk, dan mencium keningnya. Aku berkata kepadanya, Tuanku, engkau lakukan ini kepada Syalabi? Padahal engkau— dan juga semua orang yang ada di Baghdad ini— menganggapnya sebagai orang gila?
Abu Bakar berkata, 'Aku melakukan ini kepada Syalabi karena kulihat Rasulullah saw. melakukan hal itu kepadanya.

Rasulullah Minta Junaid Mengajar

Sari as-Suqthi berkata kepada keponakannya, Junaid bin Muhammad, "Berbicaralah kepada orang-orang (ajarilah mereka)." Tetapi Junaid merendahkan hati dan melihat dirinya tidak pantas melakukan hal itu. Lalu dia memimpikan Nabi saw. Beliau berkata, "Bicaralah kepada manusia." (10)
Junaid mendatangi pamannya dan menceritakan mimpi itu. Kata pamannya, "Kamu tidak mau mendengarkan aku hingga Rasulullah saw. mengatakan itu kepadamu: bicaralah kepada manusia."

Menimba llmu al-Auza'i

Hakam bin Musa bin Walid berkata, "Aku tidak pernah mendengarkan pelajaran dari al-Auzai hingga suatu hari aku memimpikan Nabi saw., sedang al-Auza'i berada di samping beliau. Aku bertanya kepada Nabi, 'Ya Rasulullah, dari siapa saya harus menimba ilmu?'
Beliau berkata sambil menunjuk kepada Imam al-Auza'i, 'Dari orang ini."'

Rasulullah Menunggu Bukhari

Abdul Wahid bin Adam ath-Thawawisi berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. sedang berjalan bersama para sahabat beliau. Nabi berhenti di sebuah tempat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, dan Nabi menjawab salamku. Aku berkata kepadanya, Apa yang membuatmu berhenti, wahai Rasulullah?'
Nabi menjawab, 'Aku menunggu Muhammad bin Ismail al-Bukhari.'
Setelah beberapa hari, aku mendengar kabar kematian Imam Bukhari. Aku berpikir—dan itu benar—ia meninggal pada hari ketika aku memimpikan Nabi saw."

Meletakkan Kaki di Jejak Kaki Nabi

Muhammad bin Abu Hatim al-Warraq berkata, "Di dalam mimpi, aku melihat Nabi saw. sedang berjalan, dan di belakang beliau ada Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari membuntuti beliau. Setiap kali Nabi mengangkat kaki beliau untuk melangkah, Imam Bukhari menginjakkan kakinya di jejak kaki beliau."

Menjaga Nabi dengan Kipas

Imam Bukhari r.a. berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. Seakan aku berada di hadapan beliau: aku memegang kipas untuk menjaga dan merawat beliau.
Aku menemui beberapa ahli takwil mimpi untuk menanyakan takwil mimpi itu. Kata mereka, 'Kamu akan menjaga Nabi dari kebohongan.'
Hal itulah yang mendorongku untuk menulis al-Jamtash-Shahih (Kumpulan Hadits-Hadits Sahih)."

Tidak Mencela Sahabat Nabi

Ja far ash-Shaig berkata, "Ada seorang tetangga Imam Ibnu Hanbal yang selalu melakukan kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan keji. Pada suatu hari, orang itu datang ke majelis Imam Ibnu Hanbal dan mengucapkan salam. Sepertinya, Imam Ibnu Hanbal tidak membalas ucapan salam orang itu dengan sempurna. Ia merasa tidak senang dengan kedatangan orang itu.
Orang itu berkata, 'Wahai Abu Abdillah, kenapa engkau tidak senang dengan kehadiranku? Aku telah berubah dari perbuatan yang selama ini aku lakukan karena pengaruh mimpi yang kulihat di dalam tidurku.'

Mengikuti Perkataan Ibnu Hanbal

Ahmad bin Hajjaj bercerita bahwa ia pernah belajar kepada Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Ibnu Hanbal, dan semua ulama fiqih hingga ia menjadi bingung mengingat perbedaan yang terjadi di antara mereka dalam menyikapi persoalan-persoalan. Ia menuturkan, "Aku ingin mengambil pendapat yang paling sahih. Aku pun memohon kepada Allah swt. untuk menunjukkan jalan kepadaku, mempertemukan aku dengan Nabi di dalam mimpi. Aku punya firasat, malam ini aku akan bertemu dengan beliau.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer