Jalan-jalan untuk Menghayati Allah


10 Jalan-jalan untuk ingat Tuhan 

Oleh keranaTuhan itu rahmatNya luas, Dia ingin hamba-hambaNya sentiasa ingat Dia. Supaya rasa kehambaan itu tidak padam, tidak pudar maka macam-macam jalan dapat ditempuh, seperti melihat alam terasa kebesaranNya, melihat orang sakit teringat kuasaNya, melihat rezeki teringat nikmat dan rahmatNya. Terlebih lagi membaca Quran, di mana Quran itu membangunkan jiwa. Tetapi membaca dengan faham dan dihayati.

Selain mengingat mati banyak hal yang membuat kita ingat Allah. Sepatutnya ketika kita ingin makan, minum, berkendaraan, berpakaian selalu ingat itu pemberian Tuhan. Tuhan yang memberi. Baru disusul dengan syukur. Jadi kalau kita ingat itu dari Tuhan timbul rasa malu. Barulah akal kita dapat berfikir, Aku tidak layak dengan ini Tuhan, janganlah engkau memberi semua ini dengan istidraj, berilah dengan keredhaanMu.

Misalnya ketika melihat makanan, kita terfikir dua hal, pertama teringat Tuhan yang punya, jangan-jangan dia memberi secara istidraj atau dengan murka. Kemudian teringat dengan manusia lain. Berapa ribu orang yang mengusahakan dan terlibat di dalamnya mengusahakan makanan ini. Jangan-jangan orang yang mengusahakan miskin papa, tidak makan. Kita goyang-goyang kaki dapat makan. Berapa banyak orang miskin yang mengusahakannya, buahnya kita dapat. Apakah kita tidak malu ?

Jadi kalau hati hidup, doakanlah mereka. Mudah-mudahan mereka dapat hidayah. Doa tak perlu angkat tangan. Ya Allah berilah mereka itu petunjuk, murahkan rezeki mereka, ampunkan mereka. Jadilah makanan ini berkat.

Kisah orang yang rasa bertuhan

Ada seorang Al Arifubillah, ertinya orang bertaqwa. Dia berjumpa seseorang anak muda, sedang naik kuda dan berpakaian bagus, dengan penuh sombong dan angkuh.
Al Arifubillah bertanya pada dia, Mengapa engkau menjadi sombong begini?
Dia jawab, Saya memiliki tuan seorang raja atau sultan. Saya berkhidmat dengan sultan. Sebab itu saya sombong. Saya orang kepercayaan raja.
Al Arifubillah tanya lagi, Engkau kerja apa dengan raja?
Dia jawab lagi, Kalau raja seorang diri saya hiburkan dia. Waktu dia tidur, saya jaga dia. Waktu dia lapar, saya yang ambil makanan untuk dia. Waktu dia haus, saya yang ambil air beri dia minum.
Al Arifubillah tanya lagi, Kalau engkau buat satu kesalahan apa yang raja lakukan?
Dia jawab, Raja hukum.
Kalau engkau buat dosa apa yang Raja lakukan?
Dia jawab, Raja Hukum saya. Masuk penjara dua tiga hari.
Al Arifubillah kata, Kalau begitulah tuan engkau, maka aku yang lebih patut sombong, aku yang lebih patut besarkan diri.
Mengapa, Katanya
Al Arifubillah jawab, Sayapun ada Tuan seperti engkau, tapi saya dengan Tuan saya berbeda dengan engkau dengan Tuan engkau.
Apa bezanya.
Al Arifubillah jawab, Tuan saya kalau saya tidur, Dia jaga saya. Tapi engkau jaga tuan engkau tidur. Kalau saya lapar, Tuan beri makan saya. Engkau yang beri makan tuan. Bila saya haus, Tuan saya beri minum. Kalau saya tidur, Tuan saya jaga. Kalau saya sakit, Tuan saya beri obat. Kalau saya bersalah, Tuan saya ampunkan dosa saya.
Siapakah tuan engkau ?, tanya anak muda itu

Al Arifubillah jawab, Tuan saya adalah Tuhan yang menciptakan saya, engkau dan tuan engkau.
Apa kata anak muda itu, Kalau begitu saya insaflah, saya mau ikut jalan tuan, saya mahu berkhidmat Tuan pada tuan, iaitu Tuhan.
Dia pun tinggalkan raja, terus ikut Tuhan.


TANAMKAN RASA BERTUHAN SEJAK KECIL

Untuk menghuraikan pentingnya menanamkan rasa bertuhan sejak kecil, misalnya ada dua orang anak kembar, yang satu dipisahkan dari orang tuanya sejak bayi (dipelihara orang lain). Ketika telah dewasa mereka berjumpa. Yang dipelihara oleh ayah dan ibunya berkata, marilah kita khidmat pada ibu yang sudah banyak berjasa pada kita. Anak yang lain akan menjawab, mengapa kita mesti berkhidmat pada ibu. Ia berkata demikian sebab sejak kecil sudah dipisahkan dari ibunya sehingga tidak kenal dengan ibunya tentu susah untuk merasa sayang dan ingin berkhidmat. Yang sejak kecil dengan ibunya, sudah kenal dan mengasihi ibunya. Tentu ia akan mudah merasa sayang dan ingin berkhidmat.

Begitu juga dengan kita. Sejak kecil kita tidak dikenalkan dengan Tuhan, sehingga ketika sudah tua mesti dipaksa-paksa. Susah untuk merasa sayang, cinta dan takut pada Tuhan. Kita harap dengan rahmatNya Tuhan beri pada kita rasa bertuhan. Contoh : ada dua orang anak, yang satu dilatih menjadi petani sejak kecil, sedangkan yang satu tidak. Ketika besar, yang dilatih tentu akan dapat buat kerja pertanian, sedangkan yang satu lagi tidak walaupun dia punya alat pertanian yang canggih.Itu kerja yang berkaitan dengan fizikal, kalau tidak dididik dari kecil tidak akan kuat, apalagi kerja yang berkaitan dengan roh. karena itu rasa bertuhan mesti dididik dari kecil.

Bila sudah diasuh sejak kecil, ketika sudah besar tidak perlu bersusah dalam bermujahadah. Kesannya mendalam. Sebab itu bila kita yang sudah dewasa baru mahu dikenalkan dengan Tuhan, perlu mujahadah. Mujahadah untuk meninggalkan sifat ego, sombong, rasa hebat dll.

Kalau kita kenalkan Tuhan sejak kecil, kita tidak perlu dalilkan wujudnya sesuatu untuk menunjukkan wujudnya Tuhan, misalnya harimau untuk menunjukkan kehebatan Tuhan. Dengan anak-anak kita sebut saja Tuhan itu pemurah, kasih sayang, berkuasa tanpa perlu dalil.

Hari ini Islam sudah disalah tafsirkan. Hadis menyebutkan awal-awal agama adalah kenal Allah. Ajar anak-anak untuk mengenal Tuhan, bukan sekedar wujud, qidam dsb. Misalnya sambil makan, kita ajarkan pada anak-anak, air ini siapa yang ciptakan ? apakah ayah yang ciptakan? Bukan. Air ini Tuhan yang ciptakan. Tuhan sayang kita, karena itu Dia beri air. Kalau Tuhan tidak memberi air selama 3 hari kita lemah. Begitulah untuk mengajar tauhid, bukan dengan disuruh menghafal sifat 20. Tetapi dengan air tadi sudah terasa dekat dengan Tuhan.

Kita sekarang sedang berhadapan dengan dunia yang sudah rosak. Cuma ada 1-2 orang yang memiliki rasa bertuhan. Tidak mudah untuk menyerapkan rasa bertuhan dalam semua aspek kehidupan. Mengapa? Kita lihat di di zaman nabi-nabi dan Rasul-rasul, apakah manusia di waktu itu kenal Tuhan? Tiba-tiba datang nabi dan rasul hendak mengenalkan Tuhan, apakah mudah? Misalnya kita ambil contoh yang lain, satu hal yang memang ada kaedahnya tetapi kita tidak pernah belajar, kemudian kita disuruh belajar atau pun mengajar. Sudah tentu kita mesti kena belajar dari awal kecuali dengan karamah dan mukjizat. Sebab itu rasa bertuhan dan rasa kehambaan mesti ditanamkan dari kecil. Sehingga bila umur kita meningkat, rasa-rasa bertuhan itu akan terjadi secara otomatis.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer